Friday, March 2, 2012

Rekaman Untuk Hati


Mungkin.. satu-satunya orang yang mengerti tentang dirinya sendiri adalah hatinya sendiri. Bagaimana dia menjadikan dirinya baik, buruk, biasa saja bahkan seorang yang berbeda. Saya yang sudah beberapa hari berada di rumah, benar-benar merasakan sebuah keluarga yang saya rindukan selama ini, saya rindu, saya ingin dan saya sekarang telah menjalaninya, sebuah waktu dan kesempatan yang selalu saya rindukan sambil menunggu adhek kecilku ikut merasakan kecapan dunia dengan ribuan rasa dengan bantuan waktu yang akan membawanya. Inilah keluarga.

Semuanya terekam dengan jelas, bagaimana suara-suara nyanyian nyaring dari alunan gendang, kenong, bonang dan gong dan apalah itu namanya dalam suasana kentrung yang unik sering saya dengar lamat-lamat di ujung telinga saya yang tak begitu peka.
Tentangga saya hobi main seperti itu, sungguh sebuah tradisi yang mungkin akan beliau budidayakan sendiri bersama keluarganya, karena hanya mereka yang menguasainya hehe.. Indah dan begitu nyaman di tangkap oleh telinga.


Dilain waktu.. Saya mendengar campursari yang sudah jadi dalam kepingan VCD bajakan yang sengaja tetangga saya beli, suara anak-anak menggaung-gaung ingin di dengarkan. Ah... ia hanya sepasang suami istri yang menyukai lagu balonku di umur yang mulai menyenja, unik, lucu dan begitu mengesankan juga kadang terlihat begitu aneh untuk saya :).

Saya tau, ini hanya sebuah bagian bagaimana hari saya terekam dengan indah, sebuah rekaman untuk hati. Rekaman yang tak dapat di ganti oleh apapun, rekaman yang abadi dan rekaman yang menyelaraskan dan menyempurnakan kekosongan kecil dalam diri saya tentang hidup. Tentu saja dia begitu sangat tau bagaimana rekaman itu akhirnya mampu menghipnotis saya. Dipinggir desa, sebuah desa terpencil dengan jalan yang bisa sangat membuat orang takut walalu hanya sekedar memandang dari kejuahan, karena mereka belum terbiasa, Saya tak kaget.

Disisi lain, saya juga belajar banyak hal tentang kehidupan yang nyata, sungguh Allah mendengarkan setiap Doa yang Ibunda saya, Saya dan Ayah juga adhek saya pinta. Entah saya yang optimis atau saya yang berhalusinasi atau saya yang menganggap mereka, keluarga saya berdoa untuk saya. Namun nyatanya.. ini lebih dari sebuah ajaib yang saya rasakan, saya menerima apa yang saya rindukan, Sebuah keluarga juga pernak-perniknya.

Saya menjadi sedikit anti sosial dan berbalik banyak derajat dari apa yang saya lakukan di Surabaya, kota yang mengenalkan saya tentang kehidupan yang keras dan sekarang telah saya tinggalkan. Untuk saat ini, saya ingin membuat semuanya kembali normal, baik, berjalan sempurna dan menyempurnakan serta menggapai apa yang tak pernah saya dapat sebelumnya. Hampir 6 tahun saya meninggalkan rumah, datang dan pergi sekarang saya kembali dengan pengalaman hidup yang jauh lebih baik.

Rekaman ini sungguh tidak dapat saya tulis dalam satu waktu, Rekaman ini akan menyita banyak sekali waktu, rekaman yang tak butuh sutradara satupun, sebuah Rekaman untuk hati. Bloggers tau kan apa yang saya rasakan? yah... bahagia dan tentram :).

11 comments:

  1. yaa...Surabaya adalah kota kejam nomer 2 di Indonesia mbak, yg bisa dengan mudahnya mendepak perasaan sosial dihati.

    pulang ya mbak...... oleh-olehnya, hehehehe. Nikmati aja mbak dirumahnya....

    ReplyDelete
  2. adem banget yach.salam persaudaraan.

    ReplyDelete
  3. inuull lama tak bersua...ada apa niihh??semoga baik2 aja yaah...
    semoga dengan pengalaman hidup yang dimiliki bisa menjadi manusia lebih baik lagi ;)

    ReplyDelete
  4. wah pasti senang sekali dapat keluar dari belenggu surabaya :D

    ReplyDelete
  5. Salam kenal..artikelnya bagus2,, btw jgn lupa mampir ke website saya ya....makasih

    ReplyDelete
  6. Berkumpul dengan keluarga memang terasa begitu indah, jika sekian lama tak pernah bersua. Selamat menikmati rekaman kebahagiaannya, semoga rekaman itu kan selalu menghiasi setiap langkah.

    Salam kenal :)

    ReplyDelete
  7. Orang yang bisa memahami hidup akan senantiasa mendekatkan diri kepada yang maha kuasa..
    Bagus artikelnya..
    Teruslah menulis..

    ReplyDelete