Wednesday, July 31, 2013

Hati itu Dipilih, Bukan Memilih

Entah berapa kali sudah saya melihat film perahu kertas, tapi tetep aja saya nangis di bagian akhirnya. Cerita cinta yang tak pernah bisa terlupakan dengan mengikuti takdir yang akhirnya takdir menyatukan keduanya Kugy dan Keenan. Kisah cinta seorang penulis dan pelukis, kisah cinta yang unik dan berantakan. Hingga di akhir kutemukan kata-kata ajaib bahwa Hati itu dipilih, bukan memilih.

Seseorang bilang, ketika ia telah menemukan cintanya yang dia sendiri tak tau menyebutnya dengan apa. Seolah bebannya berkurang, satu kakinya menginjak kehidupan yang baru yang akan terus menapaki kehidupan dengan langkah-langkah cinta.

Lalu? Bagaimana dengan tahun-tahun sebelumnya, apakah saya atau dia juga tidak memiliki hati yang dipilih atau ada hati yang memilih. Saya bahkan sangat menyukai sebuah ketidaklaziman pada diri seseorang yang menurut saya unik. Saya lebih menyukai hal-hal yang ada di luar nalar seseorang dari pada yang hanya itu-itu saja, standard dan membosankan.

Seperti menemukan potongan puzzle yang hilang dari jiwa saya, yaaa... tentu aja ini puzzel berantakan, jadi cocok, sama-sama Absurd-nya deh.

Ku bahagia kau telah terlahir kedunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu..
-perahu kertas-

 Ya.. Aku bahagia ketika mengenal dia..
Dia berbeda.. dia tak sama..
Mungkin dengan radar ketidaklaziman..
Antara ketidak tahuan dan selalu sikap " I Don't Care.. "
Cinta semakin menjalar hingga ke nadi-nadiku..

Tapi apalah hati..
Mudah berubah bersama masa..
Ia pergi, namun tak hilang..
Ia tak ada, namun tak sirna..

Ketika hati ini memilihnya..
Ketika itu, dia semakin pergi menjauh..
Ketika hati ini berusaha menghentikannya..
Dia kembali memilih hatiku yang hampir rapuh..

Karena Hati itu dipilih..

Bukan memilih..
Kamu dan aku.. Saling memilih..

*malam semakin larut bersama detak jantung jam dinding yang menemaniku bergadang, saya ingin kembali kepada yang Maha Mendengar di malam ke 23 Ramadhan ini.



5 comments:

  1. Pada dasarnya puisi itu bagus, akan tetapi saya sangat heran, mengapa untuk mengungkapkan sebuah kenyataan (baik itu bermanfaat atau tidak bagi orang lain) itu harus membutuhkan kata-kata yang mayoritas diketahui oleh penulis puisi itu sendiri. Indah juga saya akui, tapi kenapa harus ditafsirkan dulu yang terkadang itu membuat kita berpikir lagi untuk mengetahui makna dari sebuah puisi. Padahal lebih baik dan lebih jelas jika kata-kata itu dipuisikan. Ibarat al-Qur'an, yang untuk mengetahui maknanya musti paham dulu terjemahannya dan dibutuhkan penerjemah atau jika ingin mengetahui lebih dalam lagi maka dibutuhkan juga ahli tafsir..lha bahasa Indonesia yang sudah secara jelas dan tanpa ahli tafsir malah dibikin puisi dimana yang paham makna dan kandungan puisi itu si penulis sendiri. Oleh karena itu saya lebih menyarankan jika dalam setiap puisi itu ada pemberian makna, hikmah dan kandungan yang ada pada puisi tersebut. Apalah artinya indah, kata-kata bagus tapi rumit dimengerti oleh orang lain...terimakasih

    ReplyDelete
  2. Karena Penulis ingin dirinya sendiri yang mengerti :p, trimakasih kunjungannya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yups... aku juga berpikir gt. ketika kita menulis, kurang lebih yg ditulis adalah perasaan kita di saat itu. dan akan lebih terjaga keutuhan perasaan itu dgn bermain kata yg hanya dimengerti oleh si penulis puisi itu sndiri.
      puisi bukan utk dimengerti secara general, krn maknanya tersirat n tiap org menafsirkan berbeda, itulah nikmatnya puisi, hehe..

      main2 ke blog ku juga ya ;)
      http://shandrarizal8.blogspot.co.id/

      Delete
  3. hai inuel kangen deh uhhhh
    tapi kotak komennya pakai verifikasi kata nih mana aku buruk dalam ngelihat huruf njelimet
    apa kabarmu nuel? sibuk apa?

    ReplyDelete
  4. semoga akan dtg pangeran yg memilih hatimu sayyy :D biar kamu ga comlicated begini lg :D

    ReplyDelete