Monday, March 31, 2014

Golput, Bukan Pilihan Bijaksana

Musim kampanye dan musim menebar janji para calon-calon adalah hal yang semarak akhir-akhir ini. Pasalnya, pada 9 April nanti, pemilihan calon presiden baru dan wakil-wakil rakyatnya diselenggarakan. Sudah banyak sekali cacian, cemoohan, pujian, tudingan, saling menjatuhkan dan komentar-komentar sengit yang kadang sampai masuk dalam golongan sara di internet. Berhubung TV Tunner milik suami habis kena petir yang mengakibatkan pematian secara mendadak, jadinya saya enggak bisa nonton TV, tapi saya gak menyesal hehe.

Para calon presiden dan calon legeslatif memang tidak semua yang menebar janji palsu. Yang awalnya aja demi kepentingan rakyat dan akhirnya malah demi kepentingan sendiri. Saya sendiri baru tau, kalau tugas para peetinggi itu memang memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil saat mereka di gedung-gedung yang megah. Bukan semata-mata untuk kepentingannya sendiri yang demi jabatan dengan gaji besar plus terkenal bisa duduk disana tanpa melakukan apapun.

Mereka yang membela satu partai, melulu memperjuangkan partainya, mereka yang membeci partai lain, melulu menjatuhkan dan mencari-cari alasan atas partai lain. Trus yang bingung dan gak rela bilang mo Golput aja ah... SEBENARNYA!! Adanya partai-partai itu bukan untuk saling menjatuhkan melainkan saling bersaing dengan baik dan jujur. Tapi untuk urusan dalemannya ya... siapa tau hehe..

Saya sendiri bukanlah pemihak partai tertentu, begitu juga dengan suami. Suami kurang menyukai dunia politik tetapi beliau tidak menggampangkan dan meremehkan pemilihan kepala negara beserta caleg-calegnya. Menurut beliau, tidak berpartai bukan berarti melepaskan tanggung jawab negara kepada orang yang salah dengan cara golput.

"Golput itu pemikiran orang yang gak bijaksana dan masih belum dewasa" begitu katanya.

"Kalau kamu golput, secara tidak langsung kamu rela menyerahkan negara diatur oleh orang yang salah jika pemimpinnya batil, dan secara tidak langsung pula, kamu akan ikut menanggung dosanya. Tapi memilihpun, kamu gak boleh asal milih, kamu harus tau seluk beluk calon pemimpinmu, bagaimana kepribadiannya dan jangan dipandang hanya dari partainya. Jika pilihanmu ternyata orang yang batil, itu semua sudah tanggung jawab pemimpin. Setidaknya kamu sudah mencari tau dan menurutmu paling baik", begitu tambahnya.

Saya baru tau kalau suami saya adalah orang yang detail, enggak sembrono dan memiliki pemikiran seperti itu. Padahal keliahatannya beliau cuek bebek dengan yang namanya politik, tapi tidak untuk sebuah kebenaran. Satu lagi.. ternyata orang yang saya anggap paling berantakan dan acak kadut itu, memiliki kejujuran yang sungguh luar biasa, kesabarannyapun jauh jauh melebihi apa yang saya kira.

Ah.. kurang bersyukur bagaimana saya memiliki beliau yang selalu mengajarkan kesederhanaan dan kejujuran. Saya yang merasa sudah sangat jujur saja masih banyak yang dikoreksi dan dibenarkan, dan beliau mengajarkan semuanya kepada saya. Suami adalah seorang pemimpin yang harus mendidik istrinya bukan cuma pencari nafkah dan mengubur istrinya dengan gelimangan harta benda, dan dari beliau, saya kembali belajar tentang kehidupan yang jauh lebih baik.  Bukan janji capres ama caleg aja yang selalu ikut-ikutin kata "DEMI MASYARAKAT YANG LEBIH BAIK" haha.. Bijaklah memilih, jangan Golput ;).

5 comments:

  1. yaa itulah susahnya memilih para wakil rakyat... pada kenyataannya memikirkan kepentingan pribadi dan organisasi daropada mikirin rakyatnya

    ReplyDelete
  2. betul sekali. jangan sampai kita Golput. lebih baik memilih dari pada tidak memilih.
    Yang pasti kita harus mencari tau calon yang akan kita pilih, dan jangan lupa cari tau orang2 yang ada di belakang orang tersebut.

    ReplyDelete
  3. Masya Allah, setuju dengan apa yang diucapkan suami mba. Kita boleh acuh dengan politik, tapi tidak dengan kebenaran. :)

    ReplyDelete
  4. Jika suara anda tidak masuk hitungan anda tidak punya hak mengeluh pada pemerintahan 5 tahun kedepan.

    ReplyDelete
  5. dibalik golput ada mahasiswa dan pekerja perantau seperti gueeeeh

    ReplyDelete