Tuesday, September 16, 2014

Melahirkan, Sisi Terkuat Dari Sosok Seorang Wanita

Kinza dan Abi
Subhanallah.. Segala Puji Bagi Allah, Maha besar Allah dengan segala penciptaannya yang begitu besar kepada seorang wanita. Siapa-siapa yang menganggap seorang wanita adalah makhluk yang lemah, menurut saya dia telah memberi anggapan yang salah besar. Wanita adalah sosok yang kuat dan tangguh. Tentu saja di dalam konteks bukan tentang kekuatan fisik dan raga, tapi lebih kepada kekuatan batin. Namun, ada satu yang membuktikan bahwa seorang wanita ada sosok yang patut di banggakan karena ketangguhan dan kekuatan yang di berikan oleh Allah saat ia melahirkan.

Jika ditanya bagaimana rasanya melahirkan, ah.. merinding rasanya ingin menjawab. Melahirkan adalah hal terbaik yang pernah saya alami. Bahkan, sampai saat ini, saya tidak berani melihat video melahirkan yang beredar di internet. Tanya kenapa?

Kekalutan saya saat itu adalah, tentang kebijakan rumah sakit yang tidak memperbolehkan suami menemani. Jujur, saya merasa sakit hati, jengkel dan tidak terima. Rasa sakit yang sungguh luar biasa ketika proses kontraksi membuat saya merasa sendiri, saya iri kepada mereka yang bisa ditemani suaminya saat melahirkan. Tapi pada waktu itu, pikiran saya hanya satu, semoga Allah memberikan kemudahan dan keselamatan untuk saya dan bayi saya. Berbekal doa dan restu dari suami saya rela menunggu di ruangan yang penuh dengan teriakan calon ibu yang sedang berjuang melawan rasa sakit yang sungguh luar biasa.

Yang ada dalam pikiran saya saat itu hanyalah, bagaimana saya bisa menenangkan diri sendiri dengan menahan rasa sakit, yang diiringi suara-suara yang bisa membuat kita menciut untuk tetap bertahan. Bisa dikatakan, ruangan itu adalah ruangan terapi kejiwaan tentang ketenangan dan mengendalikan diri dari keputus asaan. Saya yang masih meringkuh diatas ranjang yang kecil khas rumah sakit, membiarkan rasa sakit menjalar dan menikmati tahap demi tahap dan sesekali mendengarkan teriakan dan saran para bidan kepada calon ibu yang berjuang. Dan Subhanallah... begitu rasanya.. ketika saya mulai memasuka tahap sama seperti mereka, ketika bayi akan keluar setelah bukaan 10.

Jeritan sakit saya.. tidak disambut baik oleh bidan-bidan itu, saya merasakan sakit, saya butuh suami saya, saya ingin menggenggam tangannya dan ikut merasakan bagaimana saya saat itu dirangan yang sama. Mungkin terlalu seringnya bidan-bidan itu yang setiap hari mendengar suara jerit sakit yang luar biasa. Tapi saya, saya adalah wanita yang baru, wanita yang butuh pendamping. Betapa senangnya saat mertua sesekali masuk melihat saya, saya merasa sedikit tenang, tapi para bidan kembali menyuruh ibu mertua saya pergi. Jahat sekali! Mungkin disanalah saya harus belajar, menagani masalah sendiri, menahan sakit sendiri dan menjerit semau saya.

Satu hal bagi para calon ibu, jangan pernah takut sendiri dalam ruangan apapun saat akan melahirkan, karena masih ada Allah. Seperti kepercayaan yang selalu saya pegang pada waktu itu. Pokok'e melahirkan adalah hal terbaik bagi seorang wanita. Setelah itu.. hanya mengabdikan diri kepada suami dan keluarga adalah urutan yang tak kalah pentingnya. Jadilah yang terbaik untuk memberik hal terbaik bagi orang-orang yang terbaik, suami dan anak-anak.

Seusai melahirkan, masih saja suami becandain saya

"Nggak trauma kan dek untuk melahirkan lagi, Plaaaaakkkkk!!"

kalo sudah lupa rasanya melahirkan, ya mungkin.. :p

1 comment: