Friday, November 14, 2014

Kebencian, Andai Bisa Kuhapus

Jika saja semua orang adalah malaikat, pasti ia tak akan membuat kesalahan apapun dalam hidupnya.
Jika saja semua orang adalah seorang malaikat, pasti ia akan selalu tunduk hanya dengan kebenaran.
Tapi apalah, manusia tetaplah manusia, yang selalu bersahabat pada kesalahan, dan selalu berteman pada keangkuhan.


Ya.. begitulah kira-kira hukum alam yang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Bahwa,... menjadi baik itu sulit
Bahwa.. Memahami orang lain itu tidak mudah..
Bahwa.. Melihat sisi baik seseorang ketika kita membencinya itu sungguh sangat sukar.

Kenapa begitu?

Ketika perasaan tidak senang kepada orang lain, maka dalam hati seseorang yang ada hanyalah keburukan-keburukan orang tersebut. Yang ada di pikiran adalah mencari-cari alasan untuk tau bahwa dia adalah orang yang bersalah dan patut untuk di benci. Padahal.. Semua orang punya alasan untuk menjadi orang yang di benci orang lain. Ya.. tentu saja semua masalah mempunyai alasan, dan alasan itu jarang dan bahkan tidak mau untuk si pembenci tau, masa bodoh.. itu urusanmu, bukan urusanku, begitulah kira-kira.

Namun ternyata, kebencian itu sendiri jauh lebih mampu menguasai seseorang di banding sebuah pengertian yang akan membawa energi positif. Dan sungguh, kebencian hanya akan memberikan rasa tidak nyaman dan mengusik jiwa baik yang dimiliki oleh seseorang. Andai saja dengan mudah bisa menghapus kebencian, saya akan melakukannya di awal-awal sebelum saya tahu bahwa saya membenci sesuatu.

Bahkan, tertawa saja tidak cukup untuk menutupinya, hati lebih membutuhkan obat dari pada manipulasi rasa yang hanya menumpuk masalah dan entah kapan akan usai. Hanya sedikit membagi rasa kepadamu, Jombloku...

Disini... aku akan selalu mengharapkan kepergianmu...
Menjauhi kisah hidupku...
Aku yang selalu mengharapkanmu lenyap...
Berada di kehidupan lama yang gelap..
Terkurunglah kamu disana...
Jangan ajak siapapun kecuali, kesendirianmu...

Aku.. masih akan terus menunggu...
Dan akan terus menunggu...