Sunday, November 16, 2014

Yakin, Kalau Cuma Harta ?

image :dreamstime.com
Sebagai manusia, kita khususnya saya sudah sangat seharusnya selalu mengintrospeksi diri setiap detik, menit, jam dimana waktu itu terus berjalan. Setidaknya, bagaimana caranya kita tidak kembali kepada keburukan walaupun hanya sedikit. masa lalu yang kelam dan penuh dengan sesuatu yang tidak baik dan parahnya hal itu tidak kita tahu -meskipun tidak ada hukum bagi ketidak tahuan- paling tidak, kita selalu mau belajar menjadi lebih baik setiap saat.

Dalam rumah tangga saya yang baru berusia seumur jagung, saya merasakan banyak sekali perubahan yang membawa diri saya kepada suatu yang di sebut -kesadaran-. Bukan sesuatu yang saya sadari sendiri, tapi ada orang lain yang mengajak saya ke dalam hal itu sejak pertama kali status saya berubah. Entah bagaimana ceritanya, yang jelas, saya akan mejadikan semua hal buruk dimasa lalu sebagai pembelajaran yang patut saya jadikan acuan untuk lebih baik.

Tidak berhenti pada ilmu yang itu-itu saja, dan tidak bangga dengan keadaan diri yang begitu saja. Ehem... ini bukan hanya tentang, soal harta. Meski sebenarnya saya sendiri sangat menginginkan harta dan mungkin orang akan menyebut saya -sok gak mau harta-. Tapi.. setelah berfikir keras dan membiasakan diri dengan kesederhanaan, harta hanyalah urutan kesekian kalinya dalam kehidupan yang patut di perhatikan. Untuk hal yang paling penting adalah,

Dari mana harta itu berasal?

Dengan cara apa harta itu didapat?

Dan Dengan alat apa harta itu ada?

Semuanya itu, pertanyaan-pertanyaan simple tersebut jarang sekali mampir dalam otak saya sejak dahulu. saya yang dahulu sekolah di MTsN saja masih suka naik-naik manjatin mangga di jalan pulang sekolah. Jujur mangga di jalan tanjakan menuju rumah itu memang manis banget, kalo gak salah itu mangga madu haha... Saya jadi sadar, apa yang saya pakai saat itu -Rok panjang, lengan panjang, berjilbab- hanyalah sebuah pakaian saja. Padahal pakaian itu menuntut untuk di bawa kejalan yang sejajar dengannya yaitu Akhlak yang baik. tapi apa... memakai tanpa tau tujuannya hanyalah sebuah kepalsuan dan kebohongan belaka.

Menginjak dewasa, dan dengan perubahan yang banyak, sejak 2009 silam, saya kembali menggunakan apa yang saya pakai waktu sekolah MTsN dulu atas kesadaran diri sendiri. Tapi apa, ternyata saya masih tetap belum tau apa maksud dari pakaian saya tersebut. Sebagai penutupkah atau hanya sebagai bungkus. Entahlah.., yang jelas, celana jins masih suka nempel di badan saya, jilbab paris yang tipis masih suka menghembuskan anginnya melalui ketipisannya dan kaos-kaos mini masih senang saya kenakan. Dan teryata.. memang benar, itu bukanlah tutup, melainkan hanya sekedar bungkus.

Tapi ada satu hal yang harus selalu saya syukuri atas kehendak Allah yang Maha Baik. Kedatangan saya ke Bali 2011 silam, ternyata mampu memperbaiki semuanya. Lingkaran Tarbiyah yang masih saya rindukan sampai sekarang membawa saya kepada kesadaran-kesadaran yang tertimbun dalam otak. Dan saya mulai belajar memahami, apa sebenarnaya maksud pakaian yang saya pakai ini, dia bukan hanya sekedar bungkus tapi harus menjadi tirai penutup. Meski sejalan perlahan membaik dan berubah menjadi baik. Perubahan yang sungguh luar biasa. Dan sekarang.. Bersuamikan orang yang ternyata jauh lebih mendidik saya kepada seluk beluk kebaikan itu sendiri bagaimana, dan akhirnya... saya menyerah kepada kebaikan.

Bahwasanya... apa yang masuk, yang menempel, yang dipakai, yang ada  dan bersama-sama kita. Yang menaungi dalam sebuah kehidupan memang harus di teliti kembali. harus ditelusuri dari mana datangnya dan baik atau tidak caranya. Dan jangan pernah mau diajak kembali kepada keburukan, walau hanya sedikit. Dan ajakan itu tak lain adalah ada di dalam diri kita sendiri, bukan yang lain. Keep Instropeksi diri, apa yang sebenarnya kita butuhkan di dunia ini? yakin kalau cuma Harta ?

1 comment:

  1. nggak yakin sih mbak :D

    selain pakaian yang menutup tubuh secara rapat, tetapi juga pemikiran pun kita butuh mbak, mau dibawa kemana "arah pemikiran diri" diri :)

    ReplyDelete