Tuesday, March 3, 2015

Cuma 100 Perak

Alhamdulillah akhirnya bisa nulis lagi di blog, karena ada beberapa kesibukan offline dan kesibukan ngurusin badan, eh anak maksudnya, jadi saya gak bisa konsen nulis di blog. Padahal banyak ide kemaren, eh sekarang jadi tinggal satu kan :hmmm:. Kali ini saya akan membahas duit -lagi- tapi gak gede-gede, cuma 100 perak.

Berawal dari kegiatan mengisi bensin di POM yang selalu antri karena satu kota cuma ada 3 Pom bensin yang isinya pengetam semua. Beberapa kali saya dan suami selalu mengalami hal unik dan selalu begitu. Awalnya biasa saja, namun kok lama-lama diterus-terusin ya. Kejadiannya adalah mengenai uang bayar bensin yang selalu di mark-up oleh petugas pom. Karena kita selalu mengisi penuh biar gak bolak-balik ngantri sama pengetam, selalu rupiah yang ada di tagihan pembayaran bensinnya gak pasti.

Misalnya 31.200, 28.705 dan lain-lain, tapi sama petugas pomnya dibulatkan menjadi seribu rupiah diatasnya. yang Rp.31.200 menjadi Rp.32.000, yang Rp.28.705 menjadi Rp.29.000 dan seterusnya. Jadi saya itu iseng-iseng sama suami ngitung penghasilan pom bensin dari uang receh 100, 200 perak yang diambil TANPA BERTANYA boleh atau tidak kepada pemilik uang. Kalau saja ada katakanlah 100 orang yang mengisi kendaraannya, kemudian dikalikan rata-rata Rp.500 perak, berarti rata-rata penghasilan uang dari acara ini sekitar Rp.50.000/day. Kalau sebulan aja ada 30 hari, berarti 30x50.000 = Rp.1.500.000,- bersih.

Pertanyaannya, keuntungan tersebut apakah masuk kantong pribadi atau masuk kedalam kantong bensin :D ?

Ah.. kemanapun larinya uang tersebut, saya rasa mereka hanya saling berlomba-lomba memperbanyak dan menambah berat timbangan sebelah kiri. Walau cuma 100 perak, 50 perak kalau didapat dari cara yang kurang bahkan tidak baik, InsyaAllah akan menimbulkan kemudhorotan pada akhirnya. Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari hal-hal yang sering kita anggap sepele ini, Aamiin..

Saya selalu belajar dari hari ke hari bagaimana cara agar jangan sampai kita tergiur dengan keuntungan dunia, kemudian kita sangat rugi di akhirat nanti. Ingat, hal yang kecil akan semakin menjadi besar dan besar jika terus dibiasakan. Kenapa tidak memulai dari yang baik ?

Teman-teman pernah ngalamin hal yang seperti ini? Apa pendapatmu ?

1 comment: