Monday, December 21, 2015

Wonosalam, Dari Musim Duren Sampai Kampoeng Djawi

Pintu Gerbang Wonosalam, doc pribadi, 2010
Wonosalam, meski itu tempat dimana saya dilahirkan, jarang sekali saya membahas tempat ini. Mungkin belum ada kesan mendalam dengan tempat saya itu selain kebersamaan yang saya dapatkan bersama orang tua. Apa istimewanya Wonosalam? Kalau ditanya tentang istimewa, saya juga belum mendapatkannya. Yah.. Anggap saja saya adalah orang yang durhaka sama kampung halaman haha.

Belakangan ini Wonosalam sudah memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Sesuatu yang selalu menjadi tujuan orang untuk wisata dan berakhir pekan atau sekedar jalan-jalan. Saya sendiri kalau naik ke Wonosalam untuk main kerumah Mbah-nya Kinza, seneng kalau sudah masuk pedesaan. Kayaknya, saya bisa nafas dan ngambil oksigen sebanyak yang saya mau. Udara yang dingin dan sejuk bikin orang males bangun. Itu juga sebabnya saya dulu membatakkan diri dan memilih pergi dari desa demi menjauhkan diri dari kemalasan. Meskipun saat itu akses untuk ngeblog sudah ada, saya tetap enggak krasan. Sampe saya biayain  buat agar bisa OL di rumah, akhirnya kabur juga :D.


Nah, kemaren itu pas mudik ke Wonosalam, nampaknya musim duren sudah menghampiri. Saya sendiri waktu naik menyempatkan diri buat beli duren di tempat tante yang jualan. Lumayan, dikasih murah :)). Sayang.. saya sudah gak hobi foto-foto lagi, jadi gak ada fotonya pas makan duren. Dari mulai memasuki wilayah Wonosalam, pendatang yang masuk ke sana udah disambut ratusan duren tercecer di pinggir-pinggir jalan. Setiap warung khusus buah atau penjual buah yang buka lapaknya disepanjang jalan semuanya ada duren.

Dan mungkin, momen duren ini juga bisa masuk Wonosalam rame pas lagi musimnya. Selain itu, banyak orang yang mulai berdatangan ke Kampoeng Djawi untuk berwisata desa. Sebenarnya, meskipun rumah orang tua saya ada disekitar sana, Kampoeng Djawi memang sudah menarik banyak wisatawan yang penat sama kehidupan kota yang panas. Pemandangan disekitar Kampoeng Djawi tak lain adalah sawah-sawah milik tetangga dan sodara saya di Desa Ceko'an.

Tapi memang, keberadaan Kampoeng Djawi membuat warga di Desa Ceko'an dan sebagian warga Dusun Gondang memiliki lapangan pekerjaan baru. Itu yang saya banggakan. Pemiliknya sendiri, saya kurang kenal :D. Tapi sepertinya orangnya loman dan tahu harus bagaimana :D. Ya.. kurang lebih, dari Kampoeng Djawi, banyak orang yang mendapatkan pekerjaan baru, semoga semakin berjaya, barokah dan memberikan lapangan pekerjaan baru untuk orang-orang disekitarnya.

Tahu sendiri kan lapangan pekerjaan di Desa, hampir gak ada yang bisa dikerjain. Kalaupun banyak, itupun gak menghasilkan uang langsung seperti mencari rumput, berkebun, menanam padi. Padahal kebutuhan rumah tangga seperti, beli beras, minyak goreng, bawang merah, garam dan kebutuhan lainnya harus pakai uang. Berbeda terbalik dengan kehidupan di kota pokoknya :). Eh.. sebenernya saya juga pengen tu nembak-nembak keyword Kampoeng Djawi, biar saya ikutan terkenal terus desa saya ada di internet, mungkin nanti itu bisa jadi alasan saya mencintai desa saya haha.

Paling tidak, saya bisa ikutan jadi sesuatunya di Kampoeng Djawi lah, penyedia konten-kah haha. Atau jasa SEO-nya (sok bisa seo) atau tukang promosinya atau mungkin tukang rawat websitenya :v... Ah.. entahlah, ngayal aja, Bersyukur sudah kerja gak keluar rumah, bersyukur udah bisa beli beras, bersyukur bersyukur.. bersyukur.. Susahnya manusia ini bersyukur. Mungkin itu saja, nanti aja kapan-kapan saya tulis wisata Wonosalam di blog saya yang lain, lumayan banyak juga wisatanya kok hehe.

No comments:

Post a Comment