Sunday, January 17, 2016

Kalau Berjilbab, Jangan Setengah-setengah

Akhir-akhir ini, saya nampaknya dipusingkan dengan beberapa hal yang sedikit mengusik. Keheranan saya akan pola hidup orang-orang desa kadang membuat saya muak. Bukan saya sombong apalagi tidak senang dengan status saya sebagai anak desa. Saya bangga menjadi orang desa, tentu saja bukan hanya sekedar itu-itu saja. Kadang, penilaian sempit saya akan kehidupan orang desa itu semakin membuat saya malas bergaul dengan mereka. Bukan karena orangnya, tapi karena sifat-sifatnya.

Banyak hal yang gak mereka tau tapi meseka sok tau. Mengedepankan segala budaya dan adat istiadat seoalh itu harga mutlak. Belum lagi, anak-anak mudanya, gak bisa dibanggakan sama sekali. Sudah kehidupannya mundur, kelakuan juga semuanya menyusahkan orang tua dan orang sekitar.

Suka mabuk-mabukan

Belakangan saya ketahui, adek sepupu saya ternya punya teman yang salah kaprah. Teman-teman yang diyan beli minum-minuman keras dan merusak lingkungan. Berawal dari pergaulanlah akhlak seseorang bisa rusak dan bobrok. Yang saya pikirkan, apa sih yang ada diotak mereka. Seorah uang itu gampang nyarinya. Kehidupan itu mudah jalaninnya tanpa ilmu agama yang cukup. Orang-orang muda seperti itu bahkan saya anggap gak punya masa depan sama sekali. Berkumpul dan membuang-buang waktu dengan kemaksiatan.

Kelakuan ini juga bikin masyarakat was-was, pasalanya banyak hal-hal buruk yang ditimbulkan dari acara perkumpulan pemabuk ini. Sok merasa jagoan, sudah pinter apa memang sudah banyak duit? Jadi sampah masyarakat kok bangga, apa yang dibanggakan.  Itu sebabnya, mengapa saya tidak mau dan menghindari sejauh mungkin untuk hidup di desa. Saya ingin lepas dari kebodohan, saya gak mau berbangga diri dengan apa yang mereka miliki. Bukan berarti saya menilai orang desa itu bodoh. Saya suka orang-orang desa yang bisa menempatkan diri dan menjaga dirinya. Tapi untuk pergaulan dengan orang sekitar yang buruk, saya menghindari itu meskipun saya di cap sombong, saya gak peduli :).

Memandang sebelah mata orang berjilbab lebar

Sejak dulu, sampai kini dan akan selalu begitu. Cibiran kepada orang-orang yang benar dalam menggunakan pakaian yang sesuai aturan agama pasti akan terus mengalir. Mayoritas tidak berhijab membuat mereka seperti itu. Dan parahnya, menghakimi mereka yang memiliki keinginan hidup menjadi manusia yang baik malah akan di cerca. Kehidupan seperti apa itu?

Pacaran, Sudah jadi tradisi

Saya pernah muda, dan saya juga pernah merasakan bagaimana galaunya hati saat belum menikah dan dalam masa penantian. Tapi penilaian saya tentang hal ini tidak semata-mata karena saya bangga tidak pernah pacaran. Saya dulu juga hampir nyaris mau pacaran, tapi akhirnya gak jadi. Buru-buru, ingin diperhatikan, ingin punya seseorang dan yang terpenting adalah pengen punya orang yang ganteng adalah alasannya. Pikiran muda yang sempit akan membuat seseorang kehilangan cita-cita untuk memperbaiki dirinya.

Bahkan yang paling parah, mereka yang pake kerudung dengan bangganya poto bareng pacarnya. Mereka eksis, mereka saling memberi kata-kata. Apakah hanya seperti itu? Saya sangat bangga bisa ikut pengajian waktu di Bali, temen-temen tarbiyah yang luar biasa. Namun sepetlah menikah, hanya suami  yang akan saya dengarkan pertama kali. Pendapat-pendapat, pertimbangan dan keputusan bersama membuat saya gak peduli dengan omongan orang lain. Saya akan tetap menghargai orang-orang yang pernah mengajarkan, memberi ilmu kepada saya. Karena menurut suami, guru harus lebih dihormati dari pada orang tua sendiri. Dan saya setuju itu.

Tapi pacaran? dapat apa mereka selain baik-baikan di depan dan akhirnya melakukan hal-hal maksiat yang mereka katakan gak. Orang gak akan percaya. Dikiranya orang yang lebih dewasa bisa dengan mudah dikibulin. Apalagi mereka yang bangga punya anak yang punya pacar, Astagfirullah.. Buat apa memakai jilbab, kerudung atau apalah ya itu namanya bagi mereka. Memangnya jilbab itu untuk apa gunanya? Kalau memang harus berjilbab, kenapa setengah-setengah. 

Note: Gak usah marah kalo memang ngerasa sebagai orang desa yang gak ada dalam kategori diatas, saya aja gak marah meskipun orang desa :p

3 comments:

  1. Saya setuju dengan pendapat Mba..moga saja artikel ini bisa jadi motivasi untuk para wanita.

    ReplyDelete
  2. Itulah knp aku seneng tgl di perumahan. Di pemukiman biasa orang aneh kayak aku bakal bikin heboh sekampung. Beda dgn di perumahan, orangnya cuek. Aku jd nyaman pake cadar.

    ReplyDelete
  3. hmm aku juga orang desa asalnya tapi gak masalah dengan itu
    memang kenyataannya gitu kok

    yang ndeso menurutku gak ada hubungan sama penampilan, tapi akhlak :D

    ReplyDelete