Sunday, October 16, 2016

Jangan Meragukan Kasih Sayang Seorang Ibu

Dalam blog ini, saya beberapa kali bercerita tentang perjalanan saya ke Lombok dalam rangka menghadiri pernikahan salah satu sepupu suami. Disana, anak-anak mertua semuanya berkumpul termasuk mertua laki-laki saya. Hanya saja, sayang sekali Mama mertua gak bisa datang karena harus mengajar di sekolahnya. Meskipun begitu, beliau paling banyak membantu perjalanan anak-anaknya. Dari ngasih uang saku, ngurus dimana kami harus menginap yaitu dirumah adik-adik mama mertua sampai kemana kita harus pergi dan menggunakan apa, beliau ikut membantu. Luar biasa mertua satu ini memang. Padahal, anak-anaknya sudah gak kecil lagi, saya ingin sekali memberi apa yang mama mertua kepingin miliki, membahagiakannya. Seorang ibu memang gak kenal lelah membantu anaknya meski mereka sudah bukan lagi anak kecil.

Bersama Kinza, saat dipesawat akan pulang dari Lombok

Entah, saya menganggap mertua saya seperti orang tua sendiri yang sudah lama saya kenal. Mungkin karena kami memiliki pemikiran yang sejalan atau memang saya dan mertua cocok atau entahlah.. mungkin karena pernah tinggal bersama-sama meskipun dalam waktu yang sebentar. Tapi, saya merasa ada hal yang dibagi dengan hati dengan saya.

Selain menceritakan unek-unek tentang anaknya kepada mama mertua, saya juga sering sekali curhat ini itu. Begitupun sebaliknya, mama mertua juga sering berbagi ceritanya kepada saya. Seolah kami memiliki ikatan yang kuat, meski kadang kami berselisih, tapi anehnya, saya tak segan menyampaikan apa yang saya rasakan saat berselisih dengan beliau. Tidak seperti cerita menantu dan mertua lainnya, yang banyak cek cok karena berselisih. Saya lebih senang mengungkapkan yang sebenarnya kepada beliau.

Begitupun dengan mama mertua, saat di Lombok, adik-adik mama mertua saya alias bulek-bulek dari suami. Mereka juga nampak sangat akrab dengan saya. Pertama kali kami bertemu saat di Balikpapan. Saat itu adik ipar saya menikah, dan 2 adik mama datang ke Balikpapan, termasuk juga adik perempuan dari Ayah mertua. Disana kami tinggal dalam satu rumah milik nenek istri adik ipar saya. Mungkin, Kinza lah yang membuat beliau-beliau terkesan. Kinza yang sangat supel meski masih bayi, membuat para mbahnya senang. Kinza mau diajak siapa saja meski dia tau bukan Umminya. Mungkin Kinza seperti saya, mudah bergaul dan akrab dengan siapapun, like son like mother.. begitu kali ya hhaha.

Yang jelas, saya bahagia saat bertemu kembali dengan beliau di Lombok. Seperti anak sendiri, itu perlakuan yang saya dapatkan hingga waktu menjelang pulang setelah seminggu berada di Lombok.

Sepertir rintik hujan yang menyambut kedatangan saya, Kinza dan Abinya saat menginjakkan kaki pertama kali di Lombok Airport, adalah salah satu dari sekian banyak hal yang gak bisa saya lupakan saat mengunjungi pulau yang dikenal dengan pulau 1000 masjid ini. Begitupun sebaliknya, waktu perjalanan pulangpun kami diantar oleh hujan yang turun begitu lebat. Saya sebenarnya sempat khawatir, naik pesawat dengan kondisi cuaca yang seperti itu. Pesawat sepertinya kesusahan sekali menembus awan tebal sehabis take off dan mulai mendaki awan-awan putih itu. Namun, tentu saja semua sudah memiliki aturan dalam penerbangan kan, jadi ya.. sebagai penumpang saya hanya bisa memohon kepada Tuhan agar pesawat baik-baik saja. Semoga lain kali, perjalanan ke Lombok adalah dengan suasana yang berbeda dan lebih menyenangkan, InsyaAllah.

2 comments:

  1. mungkin krn jrg ketemu jg kali ya dek, makanya jd jrg ribut... Tp hal yg patut disyukurilah bs terjalin keakraban di antara kalian berdua :)

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, ya, Mbak? Rasanya adem kalau membaca cerita tentang kerukunan seperti itu. :)

    ReplyDelete