Tuesday, October 11, 2016

Kenapa OTA Jauh Lebih Baik saat Memesan Hotel

Saya ketinggalan kereta menuju Semarang.


Kejadiannya sekitar tahun 2012, bulan entah. Saya agak lupa. Yang paling diingat justru percakapan panas di siang hari ketika orangtua saya melarang pergi. Keluarga saya bukan yang termasuk suka melarang. Ke mana saja anak-anak mau pergi, selalu dibebaskan. Saya dan kakak-kakak sering berpergian jauh sampai ke luar kota sendirian atau bersama teman, dan keluarga selalu membolehkan. Diberikan kepercayaan seperti itu, membuat kami nggak pernah berbohong dan selalu berkabar mau ke mana, dengan siapa, berapa lama. Pengecualian hari itu. Saya dilarang pergi dengan alasan feeling yang nggak enak.

Image from Pixabay.com


Tapi saya tetap pergi. Tetap salim dan mengucapkan salam lalu menemui dua teman saya yang sudah menunggu di stasiun. Saya juga lupa bagaimana cerita lengkapnya, yang pasti kami telat datang saat kereta baru saja pergi melaju. Dan nggak lama, saya menyadari, ternyata tiket yang kami pegang adalah tiket palsu yang dibeli teman saya melalui calo.

Ditinggal kereta. Tiket palsu. Diperiksa petugas. Diinterogasi ini itu. Uang nggak kembali.

Sampai di sini, perasaan saya sudah enggak enak, mengingat restu keberangkatan juga ditahan di rumah. Dua teman saya memutuskan mencoba pergi lagi, besok. Saya nggak. Saya percaya dengan feeling orangtua saya. Nggak diberikan restu dan dapat kesusahan selama perjalanan, pastilah ada sesuatu. Malam itu juga kami mencari hotel tempat menginap. Dari stasiun Senen, hingga entah di Jakarta belahan mana (mata saya terlalu rabun malam itu jadi nggak bisa jelas melihat nama jalan), kami keliling keluar masuk mencari hotel, dan semua kamar penuh di mana-mana. Ada yang malah begitu lihat kami, satpam-nya langsung ngusir. Mungkin dipikirnya kami nggak bisa membayar atau apalah. Saya benci tengah malam harus keliling cari penginapan yang bahkan setelah berjam-jam, di mana-mana nggak ada satu pun kamar kosong untuk kami.

Dengan berat hati saya menelepon kakak lelaki saya. Minta dijemput. Saya terlalu sungkan meneleponnya karena saya tahu dia sibuk sekali. Tetapi saya nggak mungkin membiarkan sorang perempuan --diri saya, luntang-lantung di jalanan tengah malam. Dan saat itu dirver online juga belum ada.

Kakak menjemput. Sesampainya saya di rumahnya, hal pertama yang dia katakan sungguh mengejutkan.

"Kamu ngapain di sekitaran tempat prostitusi?"

Malam itu pun saya ceritakan perjalanan saya dan dia menjelaskan bahwa hotel-hotel di sekitaran situ begitulah. Kaget. Sedih. Sekaligus senang. Kaget saya main sejauh itu, sedih karena saya terlalu polos, dan senang mengingat saya baik-baik saja. Saat itu saya kepikiran. Saya berharap, bisa mendapatkan atau menemukan kamar kosong untuk sewa hotel hanya dengan duduk saja, sambil meneguk segelas teh hangat di kafe terdekat.

Dan Tuhan mendengar harap saya. Dewasa ini, kita benar-benar bisa pesan hotel hanya dengan duduk saja.

Kasus tersebut sudah hampir lima tahun berlalu, tapi saya akan selalu ingat. Bahwa: restu orangtua sangat penting, dan memiliki aplikasi OTA (online travel agent) untuk memesan hotel secara online, juga tak kalah penting.

Saya enggak tahu soal aplikasi OTA. Di tahun 2012 saya masih pakai ponsel yang hanya bisa sms dan telepon saja. Apa sudah ada atau belum? Tetapi, senang sekali karena di masa ini internet benar-benar ngasih kemudahan untuk saya ; kamu ; kita semua, yang membutuhkan tempat menginap sebagai persinggahan sementara.

Memesan hotel secara online, bukan hanya memudahkan pencarian. Tapi kita juga mengehemat tenaga dan waktu. Selain itu, kalau pun tempat yang kita mau ternyata penuh, kita bisa langsung cari tempat lain tanpa harus berkeliling. Saya bersyukur sekali sekarang ini banyak aplikasi OTA yang saling berlomba (dalam hal kebaikan, tentunya) untuk memberikan pelayanan terbaik ke pengguna. Ada yang sibuk kasih promo, ada yang selalu ngasih diskon, ada juga yang terus memperbaiki aplikasi jadi lebih banyak fitur-nya.

Serius, deh. Pesan hotel secara langsung itu semacam so last year banget. Mungkin menurutmu akan lebih luas memesan secara langaung. Tetapi pesan online jauh lebih puas, lho. Ada foto, ada screenshot, ada review, ada banyak informasi mengenai tiap hotel yang diberikan di OTA.
Saya sebut booking hotel secara online lebih menyenangkan, sebab saya mengalaminya sendiri. Dan kejadian di atas hanya satu dari sekian pengalaman nggak mengenakkan bagi saya. Sekarang? Tinggal buka ponsel, cari, pesan, bayar. Selesai. Nggak ada lagi rasa khawatir akan luntang-lantung di jalan.

1 comment:

  1. Astaga.. hotelnya sana daerah prostitusi mbak? Beruntung sekali mbak masih diselamatkan Allah lewat jalan lain ya..

    Tapi memang sih mbak, lebih baik pesan hotel dan tiket transportasi lewat aplikasi gituan. Lebih aman aja sih. Cepet, ringkas, hemat waktu, dan efisien. Kita gak perlu keluar rumah ataupun antri beli tiket. Bersyukur sekali saya hidup di jaman serba e-commerce ini :D

    ReplyDelete