Monday, April 3, 2017

Jangan Takut Dibilang Sadis Dalam Mendidik Anak

Saya, mungkin termasuk salah satu ibu muda yang terbilang rada sadis dimata tetangga. Gimana enggak, anak saya jatuh aja saya biarin suruh bangun sendiri. Minta tolong benerin mobil yang ngguling yang memang itu gak butuh bantuan saya, saya biarin aja. Apalagi kalau cuma gara-gara minta ini itu yang saya nilai gak ada manfaatnya dan malah banyak merugikan kesehatan anak saya, tak biarin Kinza nangis meskipun dilihat banyak orang. Gak malu? Enggak tuh, biasa aja haha.



Mungkin karena saya sudah terlalu cuek dengan urusan saya sendiri dan lebih gak peduli sama omongan orang lain kalau sudah menyangkut urusan ngurusin anak dan mana yang baik dan buruk untuk anak saya. Meskipun saya ibu baru kemaren sore melahirkan, tetap saja, saya yang paling tau kebutuhan anak saya dan apa saja yang gak boleh anak saya lakukan.

Prinsip


Mungkin itu bagian dari prinsip kami, urusan anak kami ya kami sendiri yang tanggung. Kalaupun embah-embah Kinza yang kadang cara mendidiknya kurang sejalan dengan aturan yang sudah kami buat dan sepakati, tetap saya akan bicarakan itu, tanpa terkecuali.

Misalnya tentang cemilan sehat untuk anak deskripsi saya dan sang embah sangatlah berbeda. Sehat menurut mereka asalkan anak mau makan banyak meski yang dimakan mie instant. Beda banget menurut saya serta suami, cemilan yang sehat tentu saja cemilan yang gak mengandung bahan-bahan pengawet, pewarna dan pemanis buatan serta bahan sejenisnya.

Mendidik anak bukan hal yang mudah, terlebih soal hal yang paling remeh sekalipun seperti makanan. Ada lagi, seperti soal buang sampah bekas makanannya dan ataupun cara mendapatkan barang yang diinginkan. Semua ada tempatnya dan prosedurnya sendiri.

Seperti halnya orang tua, mereka harus diajarkan sedini mungkin tentang kesadaran-kesadaran atas apa yang harus dipertanggung jawabkan atas perbuatannya. Membuang sampah sembarangan akan mengakibatkan banyak sekali kerugian dikemudian hari yang gak kita sadari. Dan hal itu, udah sering banget saya lihat dikehidupan sosial terdekat saya, tetangga. Dengan mudahnya mereka melempar sampah bekas makanannya dan yang kemudian diikuti anaknya. Siapa yang harus disalahkan kalau sudah begini kalau bukan kita orang tuanya.

Ya.. paling tidak jika kita udah terlanjur begitu, mungkin kembali mengajari diri sendiri untuk lebih bertanggung jawab dengan segala sesuatu yang kita lakukan akan jauh lebih baik. Demi terciptanya generasi baru yang jauh lebih baik. Menyayangi alam dan juga menjadi pribadi yang gak sembarangan.

8 comments:

  1. Kalau dijadiin judul sinetron: Anakku bukan Anakmu. Ya iyalaahh.. Haha

    ReplyDelete
  2. Good point of view, stigma di masyarakat kan emang begitu ka, orang-orang merasa dan meyakini pilihan mereka itu yang paling benar, termasuk dalam hal parenting: how to rise a child. Kalau mereka melihat kakak berbeda cara mengasuhnya, pasti mereka bakalan enggak tinggal diam, for the minumum, they will be judge based on their beleiveness, minimalnya, orang lain akan memeberikan penilaian berdasarkan apa yang mereka yakini. Kalau cara mereka mendidik anak pake metode A, dan melihat kakak menggunakan metode B, mereka bakalan enggak suka, oh well, disini hal yang saya sendiri juga kurang suka, jelas-jelas tiap orang itu unik dan berbeda, jadi wajar saja ada perbedaan dalam mendidik anak, more than that, hobi tiap orang beda, makanan kesukaan beda, dan sudah jelas-jelas tiap orang itu beda, namun ironisnya stigma sosial di masyarakat menginginkan kita untuk ikut arus yang sama yang sudah disepakati di masyarakat, duh duh, I am tired of this stigma that stick on our society. :(

    Faktanya, padahal yang bertanggungjawab atas hidup kita termasuk keluarga beserta kebutuhannya yang meliputi, kebutuhan harian, pendidikan, kesehatan, dukungan moral supaya tiap anggota keluarga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan masa depan keluarga, ya yang bertanggungjawab ya kita sendiri. So, alih-alih pusing ngeributin omongan orang yang enggak mau bantuan diri mereka sendiri buat ikut bertanggungjawab atas omongannya kalau-kalau kelak setelah kita mengikuti omongan mereka terjadi hal yang merugikan kita sendiri, lebih baik melakukan apa yang menurut kita benar, walau kebenaran itu relatif, namun setidaknya kalau kelak terjadi hal yang enggak bagus, kita bisa memperbaikinya dengan take action.

    I like this post content, even if I am still a college student right now, but reading this post makes me learn a lot, thanks ka inuel for writing this post.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih sharingnya.. btw ini komentar ngalahin artikelnya sendiri haha.. Triakasih udah mampir ya.. salam kenal..

      Delete
  3. Krn blm punya anak, aku nerapin pendidikan coba2 sama ponakan kaya buang sampah pd tempatnya. Dikit2 org terdekat perlu lah meski dia bukan anakku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo donk Jiiiii.. nikah trus beranak #eh kasar sekali haha

      Delete
  4. Saya sdg biasakan anak biar mandiri. Bkn org lain yg protes. Mbahnya itu yg sering nyap2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih, embahnya itu tantangan haha.. yang penting g tinggal serumah aja, jadinya gak risih :D

      Delete