Monday, March 12, 2018

Review Novel Noemi: Yang Baik untuk yang Baik

Menemukan waktu luang itu... susah banget!

Hehehe pembukaannya berat ya...

Diakui atau nggak, sedikit banyak kehidupan kita pasti akan berubah setelah menikah. Itu juga lah yang saya rasakan saat ini. Sebelum nikah, saya punya banyak waktu luang yang bisa kita manfaatkan untuk berbagai hal, bahkan hingga hal-hal yang (paling) nggak penting.



Ditambah lagi jika kita terlahir sebagai seorang "wanita." Hampir bisa dipastikan setelah menikah akan makin sulit menemukan waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk senang-senang. Jangankan untuk senang-senang, untuk dapetin 'me time' aja kayaknya susah banget. Sampai-sampai seorang ibu itu kayaknya “enggak boleh” sakit. Apalagi harus meluangkan waktu buat baca-baca novel.

Tapi itulah kehidupan, proses dan tantangannya lah yang menjadikannya menarik.


Dapat paket


Beberapa hari yang lalu. Tepatnya sih, beberapa minggu yang lalu. Seorang teman mengirimkan saya sebuah novel. Judulnya, “Neomi: Yang Baik untuk yang Baik (Seribu Hari Menuju Keyakinan Baru).”

Saya sendiri sebenarnya adalah salah seorang novel addict. Karena emang, dari SD sudah suka banget baca-baca buku (cerita). Seiring dengan bertambahnya usia, jenis buku-buku yang saya baca pun sedikit-banyak berubah. Kalau pas SD dulu, sukanya baca dongeng-dongeng, pas SMP mulai berubah ke buku-buku yang sedikit lebih dewasa. Bahkan, kadang-kadang sembunyi-sembunyi buat baca novel dewasa hehehe.

Hobi tersebut sempat terhenti saat lulus SMP. Tapi setelahnya, saya mulai tertarik lagi untuk baca-baca (novel) setelah punya penghasilan sendiri. Sejak bisa punya uang sendiri, saya makin sering menyisihkan sedikit gaji bulanan buat menyewa dan membeli beberapa novel yang saya sukai atau yang bikin saya tertarik.

Saya pribadi agak jarang baca-baca novel karya anak bangsa. Kecuali novel Andrea Hirata. Dee Lestari, dan saya juga pernah baca novel Four Season In Belgium-nya Fanny Hartanti, yang lumayan menghibur karena pemilihan gaya bahasanya “gue banget.”

Kebanyakan novel yang saya baca dan sukai memang berupa novel-novel terjemahan, karena saya sendiri nggak begitu jago bahasa Inggris. Saya suka novel romantis atau paranormal romance. Termasuk juga petualangan. Saya dulu sempat jadi penggemar berat Julia Quinn--dan hampir nuntasin semua THE BRIDGERTON SERIES. Saya juga kesengsem dengan novel Gena Showalter seri Lords of The Underworld.

Tapi hobi tersebut mulai terhenti sejak saya menikah memilih untuk “berhijrah” dan menikah. Karena selain perhatian yang harus saya curahkan lebih banyak kepada keluarga, saya juga kadang-kadang merasa sayang mengeluarkan uang hanya untuk membeli novel. Apa lagi, setelah saya pikir-pikir kebanyakan novel-novel yang saya baca hanya bisa memuaskan fantasi dan tidak terlalu banyak memberikan manfaat.

Setelah menikah saya pun lebih selektif dalam memilih baku bacaan karena menurut hemat saya: jika saya bisa menghabiskan waktu 3 jam untuk membaca novel romantis, saya yakin akan lebih bermanfaat jika saya habiskan 3 jam tersebut untuk membaca kisah-kisah inspiratif, membaca tips mendidik anak, dan hal-hal yang benar-benar saya butuhkan untuk menjalani hidup yang lebih baik.


Noemi: Yang Baik untuk yang Baik? oleh Saeful Zaman


Judul Buku: Noemi. Yang Baik untuk yang Baik
Pengarang: Saeful Zaman
Penerbit : Media Perubahan
Terbit: Oktober 2017
Tebal: 351 Halaman
ISBN: 978-602-17752-7-1


Karena sudah lama tidak membaca novel, saya pun jadi merasa kurang tertarik untuk mengulang kembali hobi (yang sama) beberapa tahun lalu itu. Tapi tiba-tiba, beberapa minggu yang lalu saya dikirimi sebuah novel berjudul Noemi.

Sekilas dari sampulnya terlihat berbeda dari novel kebanyakan. Sampulnya menggunakan gambar cewek berjilbab dengan latar belakang cowok pake motor (jadul). Begitu juga dengan judulnya (Yang Baik untuk yang Baik?) yang mengingatkan saya pada salah satu penggalan ayat di Al-Quran. Dan penggalan kalimat tersebut juga sempat bikin heboh (dunia persilatan) beberapa tahun lalu. Ketika salah seorang motivator kondang (yang terkenal dengan kata-kata “super”-nya) menjadikan kalimat tersebut sebagai subjek bahasan dan akhirnya menimbulkan pro-kontra.

Dari cover dan judulnya, saya mencoba menebak-nebak cerita seperti apa yang akan diangkat oleh pengarang di buku ini. Rasa rindu zaman-zaman suka baca novel dulu perlahan mulai bangkit kembali. Saya pun berusaha meluangkan waktu agar bisa membaca novel ini. Tapi tetap saja, "waktu" yang diharapkan tidak kunjung datang. Apalagi kalau masih punya anak bayi kayak saya, fyuhh... hampir sebagian waktu (hanya) tercurahkan buat si kecil. Sampai kadang-kadang, rumah, anak, dan suami kurang dapat perhatian.


Perjuangan dimulai


Karena sulit menemukan waktu lubang yang panjang, akhirnya saya memutuskan untuk “mencicil” saja novel ini.

Kesan pertama... saya pesimis bakal bisa nuntasin novel ini. Alih-alih bikin saya penasaran dan tertarik, awal cerita novel ini bikin saya enggan melanjutkan membaca. “Nah loe...”

Secara... Selama mengenalkan tokoh dan latar belakangnya, rasanya saya seperti sedang membaca episode berita kriminal (geng motor) di detikcom.

Sulit menemukan waktu luang, ditambah lagi dengan pembukaan yang kurang greget bikin saya makin enggan membaca novel ini. Walaupun dalam hati tetap ada rasa penasaran mengenai ending-nya.

Setelah beberapa hari terbengkalai. Teman yang mengirimi saya novel ini sedikit ngasih “bocoran,” dia bilang kalau novel ini sebenarnya cukup bagus di bagian-bagian tengah dan akhir.

Masa sih?!

Tapi sejak itu, semangat saya bangkit kembali buat ngelanjutin membaca. Sampai akhirnya, hari ini saya benar-benar punya waktu yang lumayan banyak. Cuaca pun bersahabat (nggak terlalu panas), plus kondisi rumah juga cukup kondusif.

Benar saja, setelah melewati perkenalan tokoh dan setting (latar belakang), dan ketika memasuki "Langit Pertama” (ini semacam capture dalam novel ini), feel-nya mulai kerasa. Makin lama makin asyik dan bikin tambah penasaran.

Mirip-mirip sama panser gitu kali ya... Makin lama makin panas... Makin panas makin asyik...

Saya jadi teringat novel "Gone With The Wind." Sebuah master piece yang bikin saya takjub. Di awal-awal, saya nggak bisa merasakan sensasi dan daya tarik buku tersebut. Tapi setelah melewati tahap-tahap awal, ceritanya makin asyik dan makin bikin penasaran. Faktanya. Novel setebal bantal yang terdiri atas 4 jilid tersebut saya lahap hanya dalam beberapa hari.


Plot


Novel ini mengisahkan tentang cewek bernama Noemi yang (baru beberapa tahun) berusaha merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik (hijrah) dengan fokus menguatkan iman dan taqwa melalui berbagai kegiatan keagamaan baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Di sela-sela fokusnya mendalami agama dan meningkatkan keimanan, ujian pun datang...

Ujian tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah... "virus merah jambu" yang emang sulit dihindari oleh sebagian besar remaja sepertinya. Tapi masalahnya, itu tidak hanya soal perasaan dan cinta, melainkan yang menjadikannya terasa barat adalah, ia jatuh hati pada dua orang cowok dengan latar belakang yang benar-benar berbeda. Yang satu adalah mantan pacarnya di SMA--yang kemudian sukses serta masih menyimpan rasa (cinta) pada Noemi.

Sedangkan cowok yang kedua, adalah seorang preman/berandalan (baca: anak geng motor) yang juga sama seperti Noemi, sedang berusaha untuk hijrah dan meninggalkan masa lalunya yang kelam.

Latar belakang dan kegiatan di novel ini mengingatkan saya pada kegiatan-kegiatan liqo' yang saya ikuti sebelum menikah dulu. Saya seolah-olah kembali pada saat-saat menyenangkan itu. Dimana setiap harinya--kita selalu berusaha untuk memperdalam ilmu agama, menambah pengetahuan, dan selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang diridhoi oleh Allah


Pendapat saya mengenai novel Noemi


Kemampuan penulis dalam mengambil hati pembaca di awal-awal emang masih kurang greget. Tapi saya cukup maklum, karena mungkin ini adalah novel pertamanya. Walaupun sejatinya ia bukan penulis baru karena sudah terlebih dahulu menelurkan beberapa karya, yang sebagian besar membahas tentang psikologi, yang emang menjadi latar belakang pendidikan dan passion Pengarang.

Untungnya, latar belakang pendidikan pengarang juga turut mewarnai, sehingga novel terasa lebih berisi. Ada banyak pelajaran yang bisa saya petik dari membaca novel ini. Tidak seperti kebanyakan novel romantis yang hanya menawarkan lika-liku asmara dengan bumbu adegan mesra (kadang cenderung mesum), buku ini terasa jauh lebih bermanfaat.

Jika harus memilih antara novel yang menyajikan cerita menarik dengan novel seperti Noemi yang sarat nilai dan manfaat.

Kalau ditanya sekarang...

Saya akan lebih memilih novel Noemi ini. Tidak hanya bisa bikin kita merasakan perasaan-perasaan anak remaja, melainkan buku ini juga mampu memberikan sesuatu yang berbeda dengan menghadirkan nilai-nilai Islami.

Novel ini mengajarkan kita bagaimana:

  • Meningkatkan kualitas hidup
  • Memberitahukan kita bagaimana seharusnya bersikap
  • Membimbing kita dalam mengambil keputusan yang tepat
  • Sekaligus memberikan banyak pemahaman bagaimana seharusnya seorang Muslim/Muslimah dalam mencari jodoh serta mempersiapkan mahligai rumah tangga mereka.
Bagi kamu yang masih jomblo, belum menikah, akan menikah, baru menikah, atau yang sudah menikah dan ingin meluruskan niat serta ingin meningkatkan kualitas keluarga, novel ini recommended banget! Kamu bisa menjadikan novel ini sebagai bacaan keluarga di rumah; alternatif hadiah unik untuk pernikahan; atau bisa juga untuk hadiah ulang tahun anak dan teman (yang udah memasuki usia remaja).


No comments:

Post a Comment