Monday, August 6, 2018

Mendidik Anak Jaman Now, Gak Semudah Membalikkan Tangan

Sebenarnya, istilah anak jaman now ini sudah lama saya dengar. Entah mereka bikin kata-kata tersebut karena begitu terkesan serba canggihnya atau mungkin anak-anak yang sudah kebanyakan dewasa sebelum waktunya. Istilah jaman now dalam persepsi sederhana saya adalah anak-anak yang modern nan susah untuk diarahkan. Disana, kadang saya yang juga sudah memiliki anak yang hampir besar ini mau tidak mau ikut khawatir juga dengan lingkungan. Yang bikin miris lagi, kebanyakan orang tua mempercayakan handphone ada ditangan anak yang notabene belum ngerti baik buruk dengan bener. Ya.. saya termasuk ibu yang kontra handphone buat anak-anak.



Maraknya aplikasi gak mutu


Dengan adanya gadget ditangan, anak-anak bebas mau membuka apa saja tanpa pengawasan orang tua. Anak-anak bebas mau install  aplikasi apa saja yang mereka inginkan. Dan belakangan, muncul anak-anak alay dengan segala keviralannya yang gak mutu sama sekali buat ditayangkan di televisi swasta Indonesia. Dan itu, karena hal yang menurut saya konyol ini, mereka banyak dikejar media. Lalu, apa yang bisa dibanggakan dan dicontoh? Itu juga alasan utama yang membuat saya untuk tidak menggunakan televisi dirumah, gak kuat sama acara-acaranya.


Anakku, Punya handphone sendiri


Menggunakan aplikasi-aplikasi yang bertebaran bebas di Google Play, seharunya sangat dibatasi untuk anak-anak. Apalagi kalau sampai mereka memiliki gadget pribadi yang sengaja orang tua kasih. Memang sih, kadang kita membutuhkan waktu untuk melakukan hal-hal yang orang dewasa lakukan seperti tuntutan pekerjaan dan lain sebagainya. Hal-hal yang menuntut mereka untuk tidak ramai dan duduk diam. Tapi, disinilah pengorbanan itu sesungguhnya. Seberapa kuat kita mengorbankan waktu untuk anak-anak kita dibandingkan pekerjaan.

Banyak orang yang meninggalkan rumah dari pagi sampai sore hari. Tidak tau apa yang anak-anak mereka lakukan seharian. Sepulangnya kerumah, si orang tua tidak juga memberikan waktu untuk anaknya karena sibuk mainan handphone-nya. Lalu, alasan kita kerja untuk anak ini apakah dibenarkan? Untuk anak biar bisa apa? Punya banyak uang?

Saya menulis ini karena banyak sekali orang tua disekitar saya yang menyerahkan anaknya sama lingkungan. Sedangkan saya sendiri, melihat anak saya berada didekat temannya yang sedang nonton Youtube yang isinya orang make aplikasi gak mutu kayak Tik Tok aja nggak rela lho. Belum lagi kalau dia main kerumah temennya yang kemudian anak saya ikut-ikutan nonton acara televisi yang isinya saling hujat. Mereka kan nggak ngerti apa yang sedang di tonton. Pulang-pulang anak saya bawa kata-kata yang gak pernah kami ucapkan didalam rumah seperti nakal lah, awas lah dan masih banyak lagi. Itu tuh rasanya saya pengen ngunci anak saya aja dirumah, udah gak boleh keluar lagi. Tapi apa mungkin?

Memberi bekal dari rumah


Oke.. saya dan semua orang tua didunia ini gak mungkin bisa memberikan batas untuk anak-anak biar dirumah sepanjang hari. Itu gak mungkin banget! Tidak semua orang dilingkungan sekitar rumah kita memiliki prinsip hidup yang sama. Tujuan hidup yang sama dan juga adab-adab dan cara-cara mendidik anak yang sama, jelas gak mungkin sama. Bahkan yang sedarah saja kita gak sama, apalagi tetangga yang gak ada nasab-nya.

Setidaknya, sedini mungkin, bekal akhlak buat anak-anak wajib ditanamkan. Seperti untuk tidak mengambil apapun yang bukan miliknya, apapun dan sekecil apapun itu meskipun ia tergeletak dijalanan. Seperti untuk selalu meminta izin saat akan mengambil atau meminta apapun meskipun itu hal yang remeh banget kayak minjem mainan. Sebaliknya, untuk tidak marah ketika seseorang atau temannya tidak mau memberikan mainannya kepada si anak meskipun sudah meminta izin. Itu hak mereka, dan kita gak boleh membantu anak untuk mendapatkan apa-apa yang dia inginkan dengan merayu pemiliknya. Jelaslah si teman mau minjemin tapi bukan karena ikhlas dan rela, tapi karena takut sama orang tuanya.

Mengapa saya berpendapat bahwa belajar akhlak lebih penting dari belajar ilmu akademik. Belakangan juga saya melihat hebohnya media yang menayangkan koruptor dipenjara namun memiliki fasilitas yang wah banget. Selain itu, mereka juga memiliki ruang kerja didalam tahanan. Meskipun dipenjara, mereka masih bebas mau ngapa-ngapain. Itu yang membuat saya juga berpikir keras, bisa-bisanya mereka nglakuin hal itu. Dan yang paling parah, mereka bersandiwara dan berbohong akan banyak hak seperti menempati kamar yang bukan kamarnya. Luar biasa liciknya, luar biasa nggak berakhlaknya.

Obrolan itu kemudian kami simpulkan, bahwa.. ketika seseorang memiliki mental "pencuri dan licik", dimanapun tempatnya, mental itu terus akan dijadikan pedoman hidupnya. Bagaimana bahayanya kita kalau tidak mengajarkan anak-anak kita dengan akhlak yang baik, bagaimana mereka nanti ketika besar. Seperti merekakah? Naudzubillah..

Menanamkan sifat jujur dan bermental tak suka mengambil hak orang lain, wajib hukumnya bagi kami. Jangan sampai nanti mereka menjadi generasi sisi kiri yang menjadikan hal-hal buruk meskipun itu kecil jadi kebiasaan hidupnya. Tegas dan memberikan teladan yang baik buat mereka anak-anak kita, adalah sesuatu yang wajib kita contohkan sejak dini.

Jadi... sebenarnya saya sangat bersyukur memiliki suami yang visi hidupnya tu kayak saya. Allah memang paling tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Allah memang menjodohkan manusia-manusia itu seperti cerminan diri kita sendiri. Visi dan prinsip hidup dalam rumah tangga memang harus sama, kalau nggak ya bakalan berantem tiap hari hahhaa... (kok jadi curcol ya, ahh.. udahlah :D)

No comments:

Post a Comment