Aku inget banget, sejak SD saya sudah suka menulis di buku diary. Bukan buku yang unyu-unyu dan banyak macamnya kayak sekarang, tapi buku sekolah yang saya campur dengan curhatan receh dan itu adalah harta karun paling berharga saya.
Di buku itu, saya bebas jadi "wartawan" untuk hidup saya sendiri. Isinya? Mulai dari curhatan soal tugas matematika yang susahnya mirip pecahin kode Enigma, omelan ibu, cantiknya bu guru sampai daftar cowok keren di kelas sebelah yang bahkan nggak tahu saya hidup. Menulis adalah cara saya bernapas tanpa perlu suara.
Sekarang, buku diary usang itu berganti jadi dashboard blog yang masih aktif sampai hari ini. Perjalanan dari kertas yang tintanya sering luber ke layar digital ini bukan cuma soal pindah media, tapi soal evolusi mental seorang lulusan SMP yang sempat merasa dunianya cuma seukuran kotak sabun.
Si Introvert yang "SKSK" (Sok Kenal Sok Keren)
Ada paradoks lucu dalam diri saya. Sebenarnya, saya ini tipe orang yang kalau melihat keramaian bawaannya ingin log out dari bumi. Kasur dan hening adalah sahabat sejati. Tapi anehnya, begitu kaki melangkah keluar pintu rumah, ada tombol "sosialis" yang otomatis tertekan.
Teman saya banyak. Bukan karena saya jago pencitraan, tapi karena saya penganut sekte "SKSD" (Sok Kenal Sok Dekat). Gaya bicara saya ceplas-ceplos, apa adanya, dan jujur sampai kadang bikin orang kaget. Buat saya, ngomongin orang di belakang itu hobi yang paling menguras energi dan nggak ada gunanya. Capek, tahu! Kalau ada yang nggak sreg, saya lebih pilih ngomong langsung dengan gaya "tabrak lari" daripada harus jadi produser gosip di grup WhatsApp.
Kejujuran dan gaya bicara yang "blak-blakan" inilah yang ternyata jadi modal saya menulis. Di blog, saya nggak perlu pakai bahasa orang-orang kantoran yang kaku kayak kerah baju baru dicuci. Saya menulis seperti saya sedang ngobrol di warung kopi, santai, tanpa filter berlebihan, tapi tetap punya isi.
Perang Melawan Hantu "Cuma Lulusan SMP"
Jujur saja, dulu kata-kata "cuma lulusan SMP" itu seperti hantu yang selalu nempel di pundak. Ada rasa minder yang tebalnya ngalahin kamus Bahasa Inggris pas lihat orang lain pamer ijazah tinggi-tinggi. Sempat kepikiran,
"Gimana ya caranya jadi jurnalis?
Apa jurnalis otodidak kayak saya ini bisa bersaing sama mereka yang sekolahnya pakai teori-teori rumit?"
Tapi lambat laun, saya sadar. Dunia tulisan itu nggak cuma soal gelar yang nempel di belakang nama, tapi soal seberapa jujur kamu menangkap realita. Ijazah mungkin bisa membantumu dapat wawancara kerja, tapi isi kepala dan ketajaman jempolmulah yang bikin pembaca betah.
Ketidakminderan saya tumbuh lewat setiap postingan blog. Saya mulai merasa, buat apa rendah diri kalau saya punya suara yang unik? Saya nggak butuh gelar S1 untuk bisa merasakan empati, untuk bisa mengamati bagaimana tukang ojek berjuang di bawah terik matahari, atau untuk menuliskan keresahan sosial dengan gaya yang bikin orang manggut-manggut. Keberanian saya muncul saat saya berhenti membandingkan "halaman satu" hidup saya dengan "halaman seratus" hidup orang lain.
Peluang Itu Nggak Datang ke Orang yang Diam
Buat kamu yang sekarang mungkin merasa lagi dipenjara sama keterbatasan entah itu soal ekonomi, pendidikan, atau lingkungan, dengar ini: Kesempatan itu bukan cuma untuk mereka yang "berpunya", tapi untuk mereka yang "berupaya".
Jangan diam saja dalam keterbatasanmu. Kalau kamu suka masak tapi nggak punya modal buka resto, mulai dengan nulis resep atau jualan kecil-kecilan. Kalau kamu suka menulis tapi minder karena nggak kuliah sastra, bikin blog! Bikin akun media sosial, tumpahkan isi kepalamu di sana. Dunia digital sekarang itu fair. Algoritma nggak nanya apa ijazah terakhirmu sebelum postinganmu jadi viral.
Keterbatasan itu seperti tembok. Kamu punya dua pilihan: duduk di depannya sambil meratapi nasib, atau ambil palu dan hancurkan tembok itu sedikit demi sedikit pakai skill yang kamu punya. Saya memilih menghancurkannya pakai jempol saya di keyboard.
Penutup, Tetaplah Jadi Diri Sendiri
Menulis itu ujian kejujuran. Dari diary buku sekolah sampai blog, saya belajar bahwa menjadi diri sendiri, dengan segala gaya ceplas-ceplos dan latar belakang yang sederhana saya adalah kekuatan paling murni. Kita nggak perlu jadi orang lain atau pakai bahasa yang "sok pintar" untuk bisa menyentuh hati orang.
Jadi, buat apa masih diam? Gerakkan jempolmu, buka suaramu. Karena perjalanan seribu mil selalu dimulai dari satu kalimat pertama di buku diary, atau satu klik "Publish" di blogmu.
Tulislah semua yang ada dalam pikiranmu, jangan mikir mau nulis apa
Gimana? Sudah siap menghancurkan tembokmu hari ini?



Posting Komentar
Posting Komentar