Hallo ibu ibu Milenial..
Apakah caramu memandang masa depan anak sudah tak lagi sama seperti dulu? Kalau iya, selamat! Kamu sedang berusaha menjadi orang tua yang lebih melek literasi dan edukasi. Itu... kalau yang kamu pilih adalah sesuatu yang benar-benar menunjang tumbuh kembang mereka, tentu saja!
Dari banyaknya obrolan di grup WhatsApp wali murid atau selentingan di media sosial tahun 2026 ini, saya sering merasa heran sendiri. "Bagaimana bisa, kita begitu pusing memilih antara mainan STEM atau Montessori, sampai lupa esensi dari bermain itu sendiri?"
Dulu, waktu saya masih jadi PRT usia 14 tahun, boro-boro kenal istilah STEM atau Montessori. Mainan saya ya apa yang ada di depan mata; entah itu sisa bungkus sabun atau ranting pohon. Tapi sekarang, setelah saya "naik pangkat" dan banyak bergaul dengan literasi, saya sadar bahwa memilihkan mainan untuk anak usia 4-8 tahun itu bukan sekadar pamer gengsi, tapi soal melatih problem solving.
Antara Logika Sains dan Kemandirian Hati
Jujur saja, saya sempat kagum dengan STEM Toys (Science, Technology, Engineering, Math). Mainan ini seperti robot rakitan atau coding kit yang biasanya didatangkan jauh-jauh dari Tiongkok. Saya jadi teringat, untuk menghadirkan mainan keren ini ke Indonesia, para distributor kita sampai harus lincah urusan pengiriman barang dari China. Fokusnya luar biasa: anak diajak trial and error. Gagal? Coba lagi. Mirip sekali dengan prinsip hidup saya dulu saat pertama kali mengadu nasib di kota.
Tapi di sisi lain, ada Montessori Toys. Ini jauh lebih "kalem". Bahannya kayu, alami, dan nggak berisik. Montessori ini mengajak anak fokus pada satu tugas sampai tuntas, persis seperti saat saya belajar merapikan rumah majikan dulu—harus telaten dan mandiri. Menariknya, untuk menjaga kualitas bahan kayu yang presisi, banyak produsen yang bekerja sama dengan pabrik global. Urusan bayar-membayarnya pun sekarang sudah canggih, tinggal kirim uang ke China lewat sistem pembayaran lintas negara yang aman, barang berkualitas pun sampai ke tangan anak kita.
Tak heran jika distributor lokal kerap mengandalkan layanan pengiriman dari China ke Indonesia untuk menghadirkan mainan edukatif terbaru dengan harga kompetitif. Hal ini turut membuat pilihan STEM toys di pasar Indonesia semakin beragam setiap tahunnya.
Mana yang Lebih Efektif?
Kalau ditanya mana yang lebih oke buat melatih daya pikir anak, jawaban saya mungkin akan terdengar sedikit subjektif: Tergantung anaknya.
-
Logis vs Reflektif: STEM itu melatih logika sistematis (ala saintis), sedangkan Montessori melatih rasa reflektif dan kesabaran. Untuk anak usia 4-6 tahun, saya rasa Montessori lebih pas karena mereka butuh pondasi fokus. Nah, kalau sudah masuk 7-8 tahun, baru deh kasih tantangan STEM yang lebih rumit.
-
Distraksi vs Konsentrasi: Mainan STEM kadang terlalu banyak lampu dan suara (bikin "esmosi" kalau kita lagi pusing), sementara Montessori minim gangguan. Fokus itu mahal harganya, lho.
-
Sendiri vs Bareng-bareng: Montessori itu soal kemandirian individu (aku bisa!), sedangkan STEM seringnya seru kalau dikerjakan bareng teman (kita bisa!).
Belajar dari "Bahagia Bersama"
Ternyata, tren tahun 2026 ini mulai mengarah ke hybrid. Banyak mainan kayu (Montessori) tapi konsepnya sains (STEM). Ini persis seperti kesimpulan yang saya tangkap dari buku Bahagia Bersama karya Kang Maman. Bahwa kebahagiaan—atau dalam hal ini, kecerdasan—tidak harus memilih satu kutub saja.
Kita bisa menggabungkan keduanya. Karena pada akhirnya, kemampuan problem solving itu bukan soal anak kita jago rakit robot atau pintar susun balok kayu saja. Tapi tentang bagaimana mereka tidak takut gagal dan berani mencoba lagi.
Ibarat saya dulu yang nekat jadi penjaga warnet tanpa tahu apa-apa soal internet, tapi karena mau belajar (literasi), akhirnya saya bisa sampai di titik ini. Jadi, jangan nunggu anak sukses dulu baru dikasih fasilitas. Fasilitasi mereka sekarang dengan mainan yang tepat, sesuai tahap perkembangannya.
Sama seperti pesan si "Dia" ke saya: "Jangan nunggu sukses! Bahagiakan dirimu (dan anakmu) dengan cara yang benar." Karena di balik mainan edukatif itu, ada ekosistem besar—mulai dari produksi di luar negeri sampai transaksi internasional—yang semuanya bertujuan satu: membuat anak kita lebih siap menghadapi dunia.
Jadi, mainan mana yang sudah kamu siapkan di keranjang belanjamu hari ini?



Posting Komentar
Posting Komentar