Saturday, March 28, 2015

Membangun Untuk Ditinggalkan

Belajar dari pengalaman orang-orang, saya yang dulunya pingin sekali punya rumah yang bagus, indah dan megah, kini.. keinginan itu seolah emakin menyurut dan surut. Mereka mencari nafkah banting tulang, ngumpulin uang, duit dan semacamnya untuk membangun sebuah tempat didunia. Yang indah dan megah serta tak ada tandingan. Memang, sebagai manusia saya juga kadang merasa iri dan kepengen punya rumah yang bagus. Tapi, ada banyak tapi yang kemudian saya pertimbangkan.

Pertama, demi rumah yang megah nan indah, semua orang berbondong-bondong nabung, nabung, nabung, ngumpulin duit, uang, duit, duit akhirnya.. lupa sedekah. Manakah yang akan kita bawa mati? Uang atau Amal?

Kedua, demi rumah yang bagus, elok dan nyaman, seseorang akan terus bekerja, memerah keringat, mandi keringat, dan sekaligus keringatnya mengalir terus. Setelah rumah jadi, ternyata ajal menjemput. Manakah rumah yang akhirnya ditinggali? Rumah yang bagus, elok dan nyaman atau hanya sepetak tanah yang gelap gulita?

Ketiga, demi sebuah rumah yang luas nan elok dipandang, seseorang rela pergi jauh dari keluarganya, meninggalkan anak-anaknya, meninggalkan istrinya dan meninggalkan kebahagiaan sebenarnya. Manakah yang akan di bawa, amal mendidik anak, menjaga keluarga dan membenarkan jalan istri atau mengejar uang demi kebahagiaan mereka. Ya... seolah-olah itu kebahagiaan, bagi mereka yang selalu ingin memperbanyak harta tanpa mau sedikitpun berbagi. Manakah yang penting? Anak, istri dan keluarga, atau Uang?

Mencari untuk sebuah kesia-siaan..
Meninggalkan demi uang,  dan..
Membangun untuk ditinggalkan..

Manakah tujuan terakhir kita? Kemana ?

*Sebuah catatan pengingat diri

No comments:

Post a Comment