Monday, November 9, 2015

Dimanjakan, Bukan Cara yang Tepat Mengasuh Anak

Setelah menjadi seorang ibu sekitar hampir 1,5 tahun, saya banyak mengalami banyak hal yang membuat saya menyadari banyak hal. Tentang orang tua, tentang anak, rumah tangga, suami juga bagaimana cara saya menjadi seorang ibu dan istri. Jika bagi mereka gembar-gembor tentang pacaran itu mudah, seolah-olah mudah ketika menjalani kehidupan rumah tangga, saya kira mereka memiliki perkiraan hidup yang salah. Terlebih jika memiliki anak-anak yang harus menerima didikan yang baik dari orang tuanya. Itu sebabnya, saya gak suka sama orang yang pamer kebahagian sama pacarnya. Apanya coba yang dipamerin, mudhorot aja yang keliatan hehe.. Ya.. tapi sayangnya, banyak yang menganggap pacaran itu hal biasa, eh malah bisa dibilang wajib malah, Naudzubillah..

Tapi, urusan itu, biarlah mereka sendiri yang menjalani. Kembali sama urusan anak aja, lebih asik buat diomongin dan dibicarakan. Omong-omong masalah anak, saya banyak menemui hal yang selalu membuat saya belajar tentang hidup. Meskipun hanya lulusan SMP, saya adalah orang yang tidak mau berhenti belajar dari kehidupan. Sekolah kehidupan juga bisa dijadikan sekolah yang memberikan banyak manfaat.

Beberapa fenomena tentang anak yang kerap saya temukan dan itu tidak akan sya praktekkan kepada anak saya adalah. Memanjakan anak dengan cara yang berbeda-beda. Memanjakan anak bukan hanya masalah kasih sayang atau wujud sayang kita kepada anak. Dan parahnya, sikap kasian kita kepada anak dan hal-hal yang tidak disadari lainnyalah yang membuat anak kita menjadi manja.

Selalu Menolong ketika ia Terjatuh

Gak ada anak yang gak terjatuh saat dia mulai belajar berjalan dan melangkah. Gak ada anak yang langsung bisa dengan mudahnya berjalan tanpa hambatan. Dengan alasan kasian, orang tua selalu menolong anaknya yang terjatuh yang bisa dibilang, hanya sekedar jatuh dan sebenarnya dia mampu berdiri sendiri. Saya kerap dikritik oleh tatangga saya masalah ini, Kinza yang sudah pandai lari, sering sekali jatuh sampai lututnya tergores. Abi-nya memberi tahu, jangan selalu ditolong, biarkan berdiri sendiri walau sambil menangis. Dengan begitu dia akan berusaha mengatasi masalahnya sendiri dan dididik untuk mandiri serta tidak manja. Sedikit-sedikit mengandalkan orang tua dan akan terus begitu. Karena sikap kasian, kelak ketika ia tumbuh dewasa, orang tua sendiri yang repot dan secara tidak langsung akan menjadikan sang anak orang yang manja. Sudah banyak buktinya.

Gak mau kotor, Suapin aja!

Kadang-kadang saya juga suka begitu, Kinza sudah mulai minta maem sendiri dengan piring makannya sendiri. Selain itu, dia juga kerap minta minum dari gelas yang sudah saya belikan khusus untuknya. Kadang saya ngotot nyuapin karena selain lama, makannya juga berantakan jadi serumah, kotor! Tapi kemudian pandangan Abi-nya membuat saya kalah haha.. Jadilah dia makan dengan gaya yang lucu, dari awal yang gak bisa masukin  sendok makan kemulutnya dengan benar, sampai saat ini, dia mulai pandai masukin makanan dengan selamat kemulutnya. Biasanya, makanannya jatuh sebelum sampai kemulut haha.. Ternyata, aktifitas ini juga akan membuat dia belajar mandiri dan gak manja, dan memang begitu seharusnya. Kalau nurutin kelamaan, nanti gedenya makan minta disuapin terus, dikiranya kita gak sibuk apa ya hhaa.. Untuk hal ini, saya juga udah sering lihat buktinya, dan itu membuat saya jengkel!

Ma.. Minta ini dong!

Memang, yang namanya anak-anak itu suka seenaknya sendiri. Saya belum sampai tahap Kinza yang udah minta ini itu dengan cara memaksa. Tapi Kinza sudah mulai merajuk jika ada hal yang belum puas ia nikmati tapi sudah kami hentikan, seperti naik odong-odong depan minimarket :D. Tapi, pada suatu saat nanti, kami pasti akan merasakan bagaimana Kinza akan meminta sesuatu seperti mainan anak dengan cara memaksa dan kami memberikan ia pengertian. Sejak dini, harus diajarkan, bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa dimiliki. Tidak semua yang kita inginkan bisa didapatkan. Mungkin, dampak dewasanya jika kita sebagai orang tua menuruti semua keinginannnya, ia akan semena-mena dan terkesan sangat egois. Dan fakta ini juga sudah pernah saya temui, bukan hanya sekedar tebak-tebakan.

Kesimpulannya, memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita bukan hanya tentang pemanjaan dan selalu dilayani, dituruti serta melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan oleh anak sendiri. Menjadi orang tua memang mudah, tapi untuk menjadi orang tua yang cerdas, bijaksana dan berilmu, itu yang harus selalu dipelajari. Jadi, biarkan dia belajar dengan caranya sendiri :).

No comments:

Post a Comment