Terimakasih, Karena Dia Adalah Kamu

Posting Komentar
Jadi begini.. biarkan saya bercerita tentang kami....

Dulu pas kerja, mereka udah pada pake Android dan saya masih make Nokia. Gak ada rasa kepengen punya kayak mereka. Selain gak ngerti, alasan utama ya masalah dibeli pake apa wkwkwkw..



Tapi sekarang, punya suami yang ngikutin terus perkembangan teknologi, jadi siapa yang untung πŸ˜‚πŸ˜‚. 5 tahun selama ini kita bersama yang hampir tak pernah pisah sebentarpun,  itu rasanya kayak masih kemaren aja kita menikah. Bukankah waktu yang terasa sebentar itu menandakan kita sedang bahagia. Allah... Terimakasih untuk dia yang menjadi jodoh saya. Terimakasih karena dia yang menjadi imam dalam kehidupan saya.

Paketan yang begitu sempurna. Mencintai kelebihan terutama kekurangannya. Menjadi penyeimbang dari sisi kanan dan kiri. Pengingat akan kebaikan serta alarm saat keburukan mulai menghampiri. Setidaknya saya berkaca, seperti inilah saya ketika ada ketidaksamaan pemikiran. Saya sadar kami berbeda. Tapi kesamaan antara kita sangatlah banyak. Keinginan yang kita miliki juga sampai tak bisa terhitung yang sejalan. Visi misi hidup? Jangan dipertanyakan lagi, apapun yang menurutnya baik, akan saya lakukan tanpa bertanya.

Dulu mungkin saya sering bertanya ini dan itu, semakin lama saya mulai sadar, bahwa ada hal yang harus terjadi tanpa penjelasan. Bersamanya.. sungguh saya sampai lupa cara membuat puisi saking tak pernah galaunya. Bersamanya.. saya juga lupa kata-kata lebay, alai bin sedikit menjijikkan karena kami lebih suka tindakan nyata.

Selamat tinggal para mantan -yang satupun saya tak punya- selamat tinggal masalalu, selamat tinggal kenangan buruk beserta manisnya. Tapi saya tak pernah melupakan bagian dari hidup yang membuat saya mengarah padanya. Jalan kebaikan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Untuk apa ini? Hingga Allah menjawab semuanya dengan tindakan nyata.

Dia, begitu penyayang, jujur, baik kepada ayah ibunya dan juga ayah ibuku serta semua saudaraku dan saudaranya. Masihkan ada alasan untuk saya tidak menyeimbangkan semua tingkah laku baik ini.

Dia, sangat terbuka dibalik sikap paling tertutupnya. Masihkah ada alasan untuk saya tidak menjadi pakaian baginya ketika dia melindungi saya dengan segala keburukan ini.

Pernikahan adalah kehidupan yang gak bisa dibayangkan sebelumnya. Menyeimbangkan antara untuk tidak terlalu mencintai dan ingin memberinya cinta setiap saat sangatlah mudah sebenarnya. Asal.. kembalikan semuanya kepada niat awal, Lillah, Hanya Karena Allah.

Soo.... Apa inti cerita ini, gak ada sih, saya tadi mau nulis status di FB, tapi kayaknya bakalan jadi satu artikel, yasudah.. blog aja ^^. Intinya saya sedang jatuh cinta sekarang, abisnyaaa... Dia barusan mbanyol garing sih, pengen marah tapi gak jadi gara gara banyolan garing haha.

Pssstttt.. menikah juga bikin saya makin makmuurrr.. hahaha.. hayuk nikah 😁.
Husnul Khotimah
Seorang ibu yang senang menulis tentang motivasi diri, parenting dan juga tentang kehidupan sehari-hari di Jombloku. Semoga blog ini bisa membawa manfaat buat kita semua.

Related Posts

Posting Komentar