Sebuah Plot Twist Hidup, Apakah Aku Bodoh?

Posting Komentar


 "Apa kabarnya 'aku' yang sekarang sedang duduk di sudut kamar rumah mertua? Apakah hatimu sudah sedikit lebih tenang, atau justru riuh rendahnya rasa malu masih menjajah pikiranmu setiap kali sendok beradu dengan piring saat makan siang?"

Mungkin pertanyaan itu terdengar sedikit sarkas, tapi percayalah, itu adalah cara paling jujur untuk menyapa diriku sendiri saat ini. Selamat datang di babak hidup yang paling tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

 Babak di mana aku harus "pulang" ke atap yang bukan milikku, setelah dua belas tahun lamanya aku merasa sudah menjadi kedaulatan bagi diriku sendiri.

Dua belas tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Sepuluh tahun aku kenyang dengan urusan pindah-pindah kontrakan, mencicipi rasanya menjadi musafir kota yang berpindah dari satu petak ke petak lainnya.

 Lalu, dua tahun terakhir, sempat ada secercah bangga ketika akhirnya kami bisa menempati rumah subsidi hasil cicilan sendiri. Meski mungil, tapi itu adalah "istana" yang kami bangun dengan darah dan air mata. Namun, siapa sangka, di balik tawa syukur itu, ada badai yang sedang mengintai.

Ada kalanya saya merasa begitu bodoh dan benci pada diri sendiri jika mengingat angka 30 juta itu. Angka yang bagi sebagian orang mungkin kecil, tapi bagi kami, itu adalah fondasi yang runtuh. Tertipu. Sebuah kata yang sanggup membuat dunia terasa gelap seketika.

Selama dua tahun setelah kejadian itu, saya hidup dalam denial yang luar biasa hebat. Saya bersandiwara di depan cermin, di depan tetangga, bahkan di depan orang tua sendiri. 

Saya pontang-panting mencari tutupan lubang, bekerja seolah-olah semuanya baik-baik saja, padahal di dalam, mental saya sedang berdarah-darah. Saya tidak ingin terlihat gagal. Saya tidak ingin dikasihani. Sifat keras kepala saya saat itu justru menjadi bumerang yang membuat lubang hutang semakin menganga lebar.

Sampai pada satu titik, saya kehabisan napas. Pura-pura kuat itu melelahkan, teman-teman. Rasanya seperti memegang bara api tapi tangan tetap harus melambai ramah. Akhirnya, benteng itu runtuh juga. Dengan sisa-sisa harga diri yang sudah remuk, saya terpaksa "menyerah" pada keadaan.

Niat awal saya hanya satu, meminjam uang kepada mertua untuk melunasi hutang-hutang yang sudah mencekik leher selama dua tahun terakhir. Saya tidak menyangka bahwa kejujuran yang pahit itu justru membukakan pintu realitas yang lebih besar. 

Emak dan Bapak saya sendiri pun, begitu mendengar tragedi ini, langsung turun tangan. Mereka memberikan apa yang mereka punya—tanpa pamrih, tanpa hitung-hitungan.

Tapi yang paling membekas adalah kemarahan mereka. Bukan marah karena uang itu hilang, melainkan marah karena saya memendam luka itu sendirian selama dua tahun. 

"Kenapa nggak cerita? 

Kenapa harus nanggung sendiri sampai hancur begini?"  Aku ini bapakmu!

Kalimat itu seperti tamparan sekaligus pelukan bagi saya. Ternyata, selama ini saya terlalu sombong untuk menjadi lemah di hadapan orang tua.

Kini, di sinilah saya. Di sebuah titik balik yang drastis.

Rumah subsidi yang baru dua tahun kami nikmati itu sudah dikontrakkan. Barang-barang yang dulu kami kumpulkan dengan penuh perjuangan, satu per satu sudah dijual. Kami benar-benar "bedol desa", memboyong seluruh hidup kami masuk ke rumah mertua.

Jujur saja, rasanya campur aduk. Ada rasa pakewuh (sungkan) yang luar biasa tebal. Meskipun saya dikenal sebagai orang yang cuek, keras, dan tidak gampang tersinggung, tapi soal "numpang makan", ego saya benar-benar diuji. 

Setiap kali duduk di meja makan, ada rasa malu yang menyelusup. Rasanya seperti menjadi parasit di hari tua mereka, meskipun mereka tidak pernah menunjukkan keberatan sedikit pun.

Aktivitas saya sekarang masih seperti biasa, tapi rasanya berbeda. Ada label "pengangguran terselubung" yang saya sematkan sendiri di dahi saya. Padahal, otak saya sedang berputar hebat.

Namun, di tengah kegalauan ini, saya sadar satu hal: saya sudah telanjur pindah. Kapal sudah dibakar di pelabuhan lama. Tidak ada jalan untuk kembali menoleh ke belakang. Pilihannya hanya satu: totalitas.

Saya ingin sekali segera membuka usaha di sini. Saya ingin menciptakan sesuatu yang membuat saya tidak lagi sekadar "numpang lewat" atau "numpang makan". 

Saya ingin membuktikan bahwa kejatuhan saya kemarin bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah cara Tuhan mematahkan kaki saya agar saya berhenti berlari ke arah yang salah, dan mulai belajar berjalan dengan lebih bijaksana.

Ternyata, membahagiakan diri sendiri terkadang memang harus dimulai dengan mengakui kegagalan. Seperti yang sering saya baca, kebahagiaan itu bukan hanya saat kita di atas, tapi saat kita punya keberanian untuk bangkit setelah tersungkur ke tanah yang paling kotor sekalipun.

Mungkin benar apa kata orang bijak, bahwa hidup itu seperti roda yang berputar. Tapi kadang, roda itu perlu terperosok ke dalam lubang yang sangat dalam supaya kita sadar ada bagian dari mesin diri kita yang perlu diperbaiki.

Dulu, saya begitu bangga dengan kemandirian saya. 12 tahun tidak merepotkan orang tua seolah-olah menjadi medali kehormatan saya. Namun, musibah tertipu 30 juta itu mengajarkan saya tentang kerendahan hati. 

Bahwa sekuat apa pun kita, akan ada masa di mana kita butuh uluran tangan. Dan tangan-tangan itu, luar biasanya, berasal dari orang-orang yang selama ini paling jarang saya "bahagiakan" karena sibuk mengejar dunia luar.

Mertua saya, emak saya, bapak saya... mereka adalah jaring pengaman yang Tuhan siapkan ketika saya jatuh bebas. Malu? Tentu saja. Tapi saya harus mengubah rasa malu itu menjadi bahan bakar. 

Kalau saya hanya diam dan meratapi nasib di sudut kamar, maka rasa malu itu akan berubah jadi racun. Tapi kalau saya bergerak, membangun usaha, dan totalitas dengan sisa-sisa yang ada, maka rasa malu itu akan berubah jadi harga diri yang baru.

Saya sedang menyiapkan diri untuk babak baru. Mungkin membuka gerai kecil di depan rumah, Mungkin membuka tempat les, atau apa pun itu. Yang jelas, saya tidak mau begini-begini saja.

Bagi teman-teman yang mungkin sedang merasakan posisi yang sama—merasa gagal, harus kembali ke rumah orang tua atau mertua di usia yang sudah tidak lagi muda—percayalah, ini bukan kekalahan.

 Ini hanya sebuah "re-set". Kita sedang menata ulang strategi. Tidak ada kata malu untuk memulai dari nol, yang memalukan adalah ketika kita berhenti mencoba setelah terjatuh.

"Berbagi tidak harus menunggu kaya," kata Kang Maman dalam bukunya. Dan kini saya belajar sisi lainnya: "Menerima bantuan pun tidak harus menunggu hancur total." Kadang, menerima kebaikan orang lain adalah cara kita memberikan kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan pahala dan kebahagiaan karena telah membantu sesama.

Doakan saya, agar langkah kepindahan saya ke Kalimantan atau niat membuka usaha ini segera dimudahkan-Nya. Agar saya bisa kembali menatap mata mertua dan orang tua saya bukan dengan tatapan penuh rasa bersalah, melainkan dengan tatapan bangga karena anak mereka sudah "pulang" menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya.

Setidaknya, Jangan menyerah, karena hidup selalu punya cara yang unik untuk mendewasakan kita.


Husnul Khotimah
Seorang ibu yang senang menulis tentang motivasi diri, parenting dan juga tentang kehidupan sehari-hari di Jombloku. Semoga blog ini bisa membawa manfaat buat kita semua.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar