Sunday, March 14, 2010

Jemput Aku



sudah hampir 20 tahun aku hanya bisa terbujur kaku di tempat tidur ini, menikmati gelapnya malam yang mencekam serta penuh dengan rasa enggan aku "terpaksa" menaruh hidupku di bawah atap gubuk reot ini, tapi inilah hidupku, yang mau tak mau harus kusadari dan ku nikmati senikmat orang meneguk kopi pait di pagi hari, aku telah letih, aku telah capek hidup seperti ini..

suamiku tlah mendahuluiku memeluk mimpi indahnya di angkasa sana, beranjak dari tempat yang paling patut mungkin untuk kupikirkan, aku ngga' ngerti, aku tuli, aku tak mampu berdiri, bahkan hanya untuk menopang tubuh kurusku yang sudah senja ini.

entah rasa apa yang aku rasakan, semuanya begitu hampar, semuanya begitu kelam, semua sangat membuatku tersenyum, tersenyum dalam siksa yang mungkin ini hidup yang harus kuterima, hidupku bertopang pada orang yang mengasihaniku, aku tak mengharap, yang aku tau, aku ingin pergi dari dunia ini, mengakhiri semua derita "manisku", dan menyusul suamiku kesinggasana yang maha kuasa.


aku ingat saat merawatnya, menimangnya dalam pelukku, memberikan kasih sayang yang patut dia dapatkan, menceritakan kata-kata yang indah untuk membuatnya bahagia, dan selalu kudendangkan nyanyian jawa yang mungkin telah bosan dia dengar tapi dia tetaplah dia seorang bayi mungil yang tak kenal rasa dan prasangka.

aku menemaninya ketika berangkat sekolah, membujuknya ketika ia merajuk, memberinya pengertian ketika dia sedang bingung dengan semua yang ingin dia ketahui, memberinya kasih sayang yang tak pernah kuberikan kepada siapapun selama ini, bahkan kepada diriku sendiri, semua kulakukan hanya untuk nya, demi masa depannya, dan demi sebuah nama yang baik kelak untuk hidup dan masa depannya, karena dia anak tunggalku.

aku menangis di tengah malamku yang indah, diiringi suara jangkrik yang bersahutan menyambut sepinya hatiku menjadi nyanyian syurga yang blom pernah kubayangkan, aku terus saja memikirkan diriku sendiri disini, termenung menunggu pati yang aku harap segera menjemputku.

"nak dimana kamu sekarang?"

tidakkah kau ingat saat kusentuh keningmu saat kau terbaring ketika kau habis kehujanan pulang sekolah, tak taukah engkau, hatiku gelisah nak, aku ingin mengantikan sakitmu, aku ingin akulah yang menderita itu, senyummu adalah semua semangatku nak, ingatkah kau saat engkau merengek minta uang untuk beli mainan seharga 40 ribu rupiah kepada ibumu ini, aku kebingungan mencarinya, kurelakan menjual perhiasan peningalan ayahmu satu-satunya, hanya untuk garis lengkung di bibirmu".

aku terus bergumam mengingat semua kenangan yang mampu menghiburku menanti kemantian ini, "apakah dia tak ingat ketika aku mengendongnya saat dia merengek "bu.. adi capek jalan kaki", tanganku dengan entengnya menyambut semua rengekannya dengan sabar, apakah dia tak mengingat itu sekarang, 20 tahun memang bukan waktu yang sebentar, batinku terus saja bergejolak memikirkannya.

Perasaanku tak enak ketika kau meninggalkan rumah ini saat berumur25 tahun, hatiku gelisah, gundahku sebagai seorang ibu terus berkecamuk dalam kehidupaku setelah kepergianmu

"Buk.. aku pasti akan datang untuk membawamu serta, aku akan datang untuk menyembuhkan semua deritamu ibu, aku akan datang, percayalah"

kata terahirnya yang ingin sekali kupercaya, kata yang menyakitkanku, dan kata yang sangat kubenci.

kuantar engkau dengan airmataku, melihatmu semakin menjauh hingga mata rentaku tak mampu melihat bayanganmu, sekarang aku bertanya padamu,

"dimanakah kau kini nak ?, mana semua perkataanmu, aku tak sedang memintamu untuk menyembuhkan wanita tak berguna ini, aku tak sedang ingin kau berikan harta yang berlimpah, aku juga tak menginginkan semua milikmu yang berharga itu, aku hanya ingin satu,jenguklah aku walau hanya memberiku segalas air putih, itu akan bisa menyembuhkanku, itu akan membuatku menjadi seorang wanita yang mempunyai harapan dan semangat baru,"

"aku hanya ingin kau jenguk, dan menatap tubuhku rentaku yang tingal tulang dan kulit ini" bisikku yang diiringi air mata tak berkesudahan dari pelupuk mataku.

20 tahun lebih aku menderita kanker ini, aku hanya tergolek tak berdaya di tempat tidurku, jangankan untuk mencari anakku yang entah dimana dia berada, untuk bangun bahkan memiringkan tubuhku kesamping saja aku tak sanggup, perutku terlalu besar dan berat, kanker ini telah meguasaiku, menguasai hari "penuh warnaku", dan kanker ini pula yang menyebabkanku kehilangan anakku.

anakku pergi 15 tahun yang lalu, mungkin dia telah bosan melihatku, mungkin dia sudah tak sanggup lagi untuk mengurusku, ibu kandungnya dan mungkin dia juga telah bosan hidup bersamaku, anak tungalku tak pernah sekalipun menjengukku, bahkan untuk menanyakan kabarku kepada orang lain.

"tidakkah dia ingat, betapa bingungnya aku saat maghrib telah tiba, dan dia tak kunjung datang, aku mencarinya di tengah hujan nan lebat, mencarinya hingga aku tak kenal waktu, yang ternyata dia bersendau gurau bersama temannya, alangkah lega hatiku sebagai seorang ibu melihatnya tertawa, semua rasa dahagaku hilang saat melihatnya, lelahku luntur oleh wajahnya.

"tidakkah engkau merasakan itu anakku ?", sekarang biarlah aku yang renta ini menunggu ajalku, diatas tempat tidur ini, kupasrahkan hidupku kepada sang pembuat hidup, biarlah "Amben ini sebagai saksi patiku".

aku hanya mampu tersenyum menyambut malam yang panjang, dan tak pernah berujung, hanya atap-atap langit yang setiap hari mejadi pemandangan indahku, dan setiap hari aku selalu memohon, "jemputlah aku kepangkuanmu Tuhan", hingga malam menyambutku dengan sunyi, senyap, hingga sang mimpi memelukku dengan lelap.


ingin sekali menulis, saat aku baca koran kemaren, betapa tragisnya seorang nenek, yang udah tua renta, mengidap penyakit kanker di perutnya yang amat sangat besar melebihi perut seorang ibu yang mengandung, hal yang membuatku menangis, saat aku membaca "anaknya tak pernah menjenguk barang sekalipun".

dimana perasaan si anak, sampai begitu tega untuk tak melihat wanita tua itu, yang tak lain adalah ibu kandungnya, sungguh keterlaluan, semoga Allah memberikan Ganjaran yang pantas untuk si Anak. ini adalah pelajaran buatku, untuk selalu sayang kepada ayah ibuku, mereka kehidupanku, dan mereka akan selalu ku junjung dalam hatiku :), selalu dan akan terus begitu selama mata ini masih mampu melihatnya, akan kulukis senyum mereka sebisa dan semampuku, meskipun itu tak sebanding dengan apa yang mereka lakukan untukku.


Selamat pagi sobat, Happy Blogging ya ^_*.

42 comments:

  1. yang ditelinga itu ngidapnya juga kasihan nuel.. eh tapi kayaknya itu tumor deh

    ReplyDelete
  2. terimaksih atas renunganya

    ReplyDelete
  3. renungan yang membuat bulukuduku merinding..artikle yang mantap seepp

    ReplyDelete
  4. @ Anyin :: :), aku ngga tau yang itu nyin .
    @ Jha :: kita saling belajar mas.
    @ Om bunga raya :: :), kita sama-sama belajar OM.
    @ Mba Elpa :: kemaren aku nulisnya juga ampe nangis hihihi, cengeng ato emng aku membayangkan jadi ibu itu, sakit mba sakit !!

    ReplyDelete
  5. duuuuuh... kasian banget nenek itu, kenapa anaknya setega itu ya?

    ReplyDelete
  6. Suatu kisah yang sangat miris sekali, semoga aku dan kita semua bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut..aku jadi ingat sama mamaku..

    ReplyDelete
  7. @ Om sugeng :: hehe, hanya dia dan Allah yang tau, dan hanya nenek itu, nenek itu aja ngga tau kok, terus tanya siapa :-P
    @ Mba Lia :: iia, aku aja kemaren bacanya sedih., kok ada ya anak kayak gitu, mungkin banyak dan aku pastiin aku ngga ada dalam barisan mereka Naudzubillah..

    ReplyDelete
  8. astaghfirullohal 'adzhiiim...

    ReplyDelete
  9. kasian sekali nenek itu.
    dia pasti kangen banget sama anaknya

    ReplyDelete
  10. tersentuh..merinding..
    tega bgd yah anaknya..smg anaknya disadarkan atas apa yg suda dilakukannya..

    makasii uda dtg ke blog ku :)

    ReplyDelete
  11. @ Bang Buwel :: :)
    @ Mba Clara :: yah mungkin mba, tapi yang lebih nyakitin, dia ngga datang, keterlaluan, kebacut hehe
    @ dv :: iia sama-sama :), semoga amin!!

    ReplyDelete
  12. hi very interesting article thank you

    ReplyDelete
  13. pengen nangis bacanya,,,

    bu, maafkan anakmu ini...

    ReplyDelete
  14. hikss Xd lagi deh inget ibu yang telah kembali kepadaNya, setiap malam aku berharap bermimpi bertemu dengannya, tetapi pada suatu malam aku bermimpi ia berkata aku sekarang telah tenang dan bahagia disini jangan halangi langkahku dengan ketidakiikhlasan, loh kok curhat sih

    ReplyDelete
  15. aku jadi ikut sedih, salam kenal mba, :), semoga si anak cepet kembali dan memeluk ibundanya

    ReplyDelete
  16. mungkin anaknya ada diluar negeri nul...moga ibu itu diberikan ketabahan dan kesabaran menghadapicobaan itu...amin

    ReplyDelete
  17. Anak'e ra nduwe duit, ra iso bali...

    ReplyDelete
  18. Cerpen yang bagus, bisa memainkan perasaan yang membacanya!

    ReplyDelete
  19. aura dari cerpen ini dapat dirasakan!

    ReplyDelete
  20. hiks.. terharu nyuns...
    cerpen apa kisah nyata ini?

    ReplyDelete
  21. kunjungan balik dari saya
    semoga setelah menjadi sukses kita tidak lalai dengan orang tua yang telah membesarkan kita
    semoga cerita diatas menjadi pelajaran bagi kita agar menyayangi orang tua dimanapun dan kapanpun

    ====
    menjawab pertanyaan di blog saya http://teamtouring.net/nikmatnya-sate-blengong.html
    kayaknya sudah saya jelaskan di artikel. silakan dibaca kembali. salam

    ReplyDelete
  22. wuuuhuuuu
    cerpennya bagus banget
    jadi pengen nulis jugaaaaa

    ReplyDelete
  23. tulisan mba sangat menyentuh, terimakasih.. luarbiasa good..

    ReplyDelete
  24. kasih anak sepanjang galah
    kasih ibu sepanjang masa

    kapan manusia bisa berbakti kepada orangtuanya???
    miris...

    ReplyDelete
  25. jemput aku disurga-Mu
    ketika semua orang membatu
    dan menjauhi diriku
    ketika melihatku kaku

    ReplyDelete
  26. Dalam hidup ada begitu banyak kemalangan, namun jangan membuat kita selalu putus asa
    Saya jadi bertanya, apa mungkin suatu saat saya juga begitu thd ibu saya ya?
    Semoga tidak

    ReplyDelete
  27. jadi ingat ortuku nih...
    maaf untuk saat ini belum bisa menjenguk...hiks hiks...

    ReplyDelete
  28. makasih renungannya
    apa yg sudah kulakukan pada mereka??

    ReplyDelete
  29. All, aduh aku dah ketinggalan jauh buat bales satu satu hihihi, kebanyakan gtu loh, intinya semoga kita tak seperti anak itu :). buat mba Dwina, ini cerpen yang pengen aku tulis saat membaca koran karena sakit kanker yang amat besar di perutnya, dia hanya bisa hidup di atas tempat tidur, belas kasihan tetangganyalah yang membuatnya bertahan, yang lebih parah lagi, si anak ngga pernah nengokin ibunya, ngga tega kan. yah aku tambah-tambahin biar tambah lebay hihihih

    ReplyDelete
  30. semoga slalu dibukakan hati kita oleh Sang Maha..
    makasih sdh berbagi ceritanya.. :)

    ReplyDelete
  31. Semoga saja sang anak mendapatkan hidayah dari Allah sehingga dia meu menemaninya di saat saat terakhir kehidupannya, Jasa-jasa Ibu tak akan dapt terbayarkan meskipun dengan segunung emas

    ReplyDelete
  32. aminnnn.. amin ya robbal alamin, dan semoga kita selalu sayang kepada orang tua kita, terutama ibunda, kok bisa ya ampe ngga perhatian. huh.. aku jadi pengen mithessss thes thes

    ReplyDelete
  33. izin nyimak cerpennya mbak....

    ReplyDelete
  34. Cerpennya sangat menyentuh hatiku

    ReplyDelete
  35. Owh..awk minat tulis cerpen ek??bagus3..tapi sy lebih minat tulis nOvel..hu2..Anywy,Anda semua dijemput masuk ke blOg sy. ~SmiLe aLway's~ dan baca nOvel kedua terbaru ciptaan sy ‘Penantian Cinta’.Jangan lupa kOmen ya ~_0

    ReplyDelete
  36. emz iia nih cerpen'y sangt mnyentuh sekli bwt yg membca'y..
    qta jgn pernah lpa kpd ortu qta smpai akhir hayat jg.....

    ReplyDelete
  37. artikel mu bagus :) keep it up ya

    ReplyDelete