Saturday, September 10, 2016

Mereka, Pernah Ada Menemani Hari-Hari Saya di Bali - 2

Sudah saya bilang sebelumnya, awalnya saya kurang percaya diri dengan diri saya sendiri. Meskipun tingkat kepercayaan diri saya sudah diatas rata-rata (ini percaya diri apa malu-maluin ya wkwkwk) tetap saja saya masih merasa menjadi orang bawah. Dan harusnya, hal-hal yang kayak gitu itu gak boleh lho dimiliki seseorang. Pasalnya kita manusia memanglah sama, hanya ketaqwaan yang membedakan kita. Tapi kebanyakan orang takut ya sama orang-orang penting haha... Pengalaman sih dulu, tapi gak setelah saya bertemu dengan sosok Lailiya Yuliati, Mbak Yuli panggilannya.

Gimana sih sosok seorang Yuli ini? Cus.. mumpung masih semangat dan masih sangat teringat jelas bagaimana dia dimata saya ;).


Lailiya Yuliati


Sosok mungil, simple, imut-imut dan cantik adalah hal pertama yang terpikirkan oleh benak saya. Wanita yang sudah tinggal di Bali entah sejak kapan ini adalah bos saya waktu itu. Rini membawa saya ke tempat usaha yang dimiliki oleh Mbak Yuli. Sebagai seorang Administrasi sebuah Bimbel, saya adalah bawahan yang imut nan cantik juga sedikit pintar mengoperasikan komputer, itu aja kelebihannya, bisa komputer wkwkwk.

Saat Rihlah ke Lapangan Renon bersama Murobbi dan anggota tarbiyah lainnya ;)


Selain itu, Mbak Yuli adalah seorang wanita yang religius. Hafalannya selalu bertambah ketika kami bertemu di setiap hari minggu untuk Liqo'. Entahlah.. saya pikir dia adalah orang yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Bukan hanya itu, seorang yang penyayang dan gak ragu sedikitpun untuk membantu kepada sesama, hal yang membuat saya belajar banyak.

"Percaya balasan Allah saat mempermudah urusan orang lain"

Membuat makanan khas Bali, Serombotan bersama Mbak Nurul dirumah Murobbi

Sepertinya hal yang selalu diyakininya. Bunda Fatih ini,  begitu mudah melepaskan apa yang ia miliki jika seseorang meminta darinya. Seperti saat saya meminta diri saya keluar dari tempat kerjanya untuk pindah ketempat lain. Bawahan dan Bos? Gak ada dalam kamus kita saat saya bekerja dengannya. Namun, banyak hal yang membuat saya takut dengannya, saya takut mengecewakan, atau saya takut dengan apa yang ia berikan kepada saya, tentang kebaikan-kebaikan tapi saya malah menolak dan menghindar. Saya takut tidak tertular semangat menuntut ilmunya. Oh ya.. saya mendapatkan pesan dengan tulisan tangannya sebelum saya pulang ke Jawa tahun 2013 lalu untuk menikah, ini saya menurut dia,


Hal yang saya bawa dan saya jaga dengan baik adalah, ilmu-ilmu Makhorijul huruf yang saya pelajari dari Mbak Yuli. Meskipun malam-malam buta, saya datang kerumahnya untuk belajar mengaji sepulang  bekerja, dia menerima saya dengan baik dan terbuka. Saya gak akan pernah lupa bagaimana kebaikan hatinya membuat saya mudah. Sayangnya... saya gak tau betul bagaimana kepribadiannya, kurang dalam saya bertemu dengannya.

Fatih, Putra mbak Yuli yang imut ;)

Semoga Allah selalu menjaga kelurganya dengan kebaikan-kebaikan, memberikan jalan hidup terbaik dalam menggapai Jannah-Nya. InsyaAllah..
Next.. Mereka, Pernah Ada Menemani Hari-Hari Saya di Bali - 3 ya..

3 comments:

  1. di setiap peristiwa selalu ada sisi baik yang mengesankan.

    ditunggu part-3 nya Mbak.


    Salam kenal Mbak, dari blognya Mbak Swastika Nohara mampir ke sini.

    ReplyDelete
  2. Keren artikelnya, saya orang baru didunia blog kalau ada waktu kunjungi ya
    www.deguh.com

    ReplyDelete
  3. headernya baru lagi :D

    emang temen2 baik itu susah dilupain :))

    ReplyDelete