Seni Waras di Tahun Baru, Menata Hati Saat Rumput Tetangga Terlihat Lebih Glowing

Posting Komentar

Selamat datang di 1 Januari 2026. Kalau biasanya orang-orang menyambut tahun baru dengan kembang api yang meledak-ledak di langit kota besar, tahun ini saya merayakannya dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk countdown di alun alun Jombang atau lampu-lampu mal yang bikin sakit mata. Di sini, di tanah Kalimantan, pagi pertama 2026 menyambut saya dengan sinar matahari yang terasa lebih "jujur", panas, terik, dan seolah langsung menatap ke arah batin saya yang masih sibuk merapikan koper adaptasi.

Sudah 3 bulan (atau mungkin terasa seperti satu tahun?) saya berpindah. Memboyong hidup dari hiruk-pikuk Jawa yang serba teratur, atau setidaknya serba mudah ke realitas baru yang jauh lebih "mentah". Tahun 2026 ini bukan tentang resolusi punya perut rata atau beli gadget terbaru. Bagi saya, esensi 2026 adalah tentang satu kata yang terdengar klise tapi eksekusinya setara dengan misi Impossible Mission: Survival.

Kejutan Budaya, Dari "Isekai" Jawa ke Realitas Borneo

Pindah dari Jawa ke Kalimantan itu rasanya seperti karakter anime yang masuk ke dunia isekai. Segalanya berubah. Di Jawa, semuanya terasa sudah punya "standar". Mau cari sekolah anak? Pilihannya seperti menu buffet hotel bintang lima, semua berkualitas. Mau cari hiburan? Tinggal melangkah. Begitu mendarat di sini, saya dipaksa melakukan factory reset pada ekspektasi saya.

Awalnya saya pikir saya kuat. Saya pikir, "Ah, cuma pindah pulau kok, masih satu Indonesia." Tapi ternyata, adaptasi bukan cuma soal pindah koordinat GPS, tapi soal memindahkan seluruh ekosistem kenyamanan yang sudah dibangun bertahun-tahun. 

Di sini, jarak yang membentang luas menjadi teman harian. Ada penurunan kualitas hidup yang secara jujur harus saya akui. Bukan soal fasilitas fisik saja, tapi soal kecepatan hidup yang berbeda. Kadang, saya merasa seperti pelari maraton yang tiba-tiba dipaksa ikut lomba jalan cepat. Lambat, gerah, dan bikin frustrasi.

Dilema Pendidikan Standar Jawa vs Realitas Baru

Nah, ini dia sumber kebocoran batin yang paling besar, urusan sekolah anak. Sebagai orang tua yang besar dengan standar pendidikan di Jawa, melihat fasilitas dan kualitas sekolah di tempat baru ini seringkali bikin saya pengen narik napas panjang... lalu lupa cara membuangnya.

Dulu, saya terbiasa melihat anak-anak berkompetisi dengan kurikulum yang padat dan fasilitas yang memadai. Sekarang? Saya melihat kesenjangan itu terpampang nyata di depan mata. Ada perasaan iri yang menusuk setiap kali melihat unggahan teman-teman di grup WhatsApp yang masih di Jawa.

 Mereka posting foto anak-anaknya dengan prestasi-prestasi yang luar biasa, sementara saya di sini masih berjuang memastikan guru anak saya datang tepat waktu.

Rasanya seperti ada suara di kepala yang bilang, "Kamu sudah mengorbankan masa depan mereka demi perpindahan ini." Sakit? Jelas. Iri? Jangan ditanya. Melihat "rumput tetangga" di Jawa yang tampak jauh lebih hijau, lebih subur, dan lebih bergizi pendidikan, seringkali membuat saya merasa gagal sebagai orang tua. Tapi di sinilah esensi 2026 diuji, bagaimana tetap bertahan tanpa harus terus-menerus membandingkan garis start kita dengan orang lain.

Antara Beban dan Tanggung Jawab, Sebuah Pergeseran Makna

Banyak orang bilang, "Sabar ya, ini kan memang sudah tanggung jawabmu." Kalimat itu seringkali malah terdengar seperti beban tambahan daripada dukungan. Di tahun 2026 ini, saya mulai mencoba membedah perbedaan antara "beban" dan "tanggung jawab".

Beban itu beratnya di punggung. Dia bikin kita bungkuk, capek, dan pengen cepat-cepat menjatuhkannya. Tapi tanggung jawab? Tanggung jawab itu beratnya di hati. Dia memang menekan, tapi dia juga yang bikin kita tetap berdiri tegak.

Menjalani hidup di Kalimantan dengan segala keterbatasannya adalah tanggung jawab yang saya pilih. Memang, ada penurunan kualitas hidup secara materi atau fasilitas, tapi mungkin ada kenaikan "kualitas batin" yang sedang diproses. 

Saya belajar bahwa menjadi sabar itu bukan cuma diam menunggu keadaan membaik, tapi bagaimana kita tetap "waras" saat keadaan sedang tidak berpihak pada kita. Sabar di tahun 2026 ini bagi saya adalah active waiting menunggu sambil tetap bergerak, meskipun gerakannya cuma merangkak.

Mengelola Penyakit "Iri Hati" di Era Digital

Mari kita jujur, Instagram dan TikTok adalah musuh terbesar bagi orang yang sedang beradaptasi. Algoritma mereka seolah tahu cara memunculkan video-video kehidupan nyaman orang-orang di kota besar tepat saat saya sedang merasa lelah dengan debu dan panas.

Melihat teman lama makan di restoran mewah atau anaknya sekolah di sekolah internasional dengan seragam necis, sementara saya sedang berhitung soal biaya hidup yang mendadak melambung karena logistik yang susah, adalah ujian mental yang nyata. Tapi saya sadar, iri hati itu seperti minum racun tapi berharap orang lain yang mati.

Di tahun 2026 ini, saya mulai menerapkan diet digital. Saya belajar untuk bilang pada diri sendiri, "Porsi mereka ya itu, porsi saya ya ini." Bukan berarti saya menyerah, tapi saya mencoba menghargai piring makan saya sendiri, meskipun isinya mungkin tidak seestetik piring orang lain.

Misi Menyelamatkan Diri, Membahagiakan Diri di Tengah Adaptasi

Pelajaran paling mahal yang saya pelajari sejauh ini adalah: saya tidak bisa membahagiakan anak-anak atau pasangan kalau saya sendiri sudah "karatan" di dalam. Berjuang membahagiakan diri sendiri di tempat baru bukanlah sebuah keegoisan, melainkan sebuah keharusan.

Kadang, kebahagiaan itu sesederhana menemukan tempat belanja mingguan yang sama murahnya dengan langganan di Jawa, atau sekadar melihat langit Kalimantan yang kalau sore hari warnanya luar biasa cantik, jauh lebih bersih tanpa polusi industri yang pekat. Saya belajar untuk menciptakan "pulau kecil kebahagiaan" di tengah samudra tantangan.

Mungkin sekolah anak saya tidak sebaik di Jawa, tapi di sini mereka belajar soal ketangguhan. Mereka belajar bahwa dunia itu luas dan tidak semua orang punya kemudahan yang sama. Dan saya? Saya belajar bahwa standar hidup saya tidak ditentukan oleh lokasi GPS, tapi oleh kedamaian yang saya bangun di dalam rumah.

Tips Bertahan untuk Kamu yang Sedang Beradaptasi

Berdasarkan pengalaman "babak belur" saya selama beberapa bulan terakhir, ada beberapa hal yang ingin saya bagikan untuk kita semua yang sedang berjuang di tahun 2026 ini:

  1. Turunkan Ekspektasi, Naikkan Empati, Jangan gunakan standar tempat lama untuk menilai tempat baru. Itu cuma bikin kecewa. Cobalah lihat dengan kacamata warga lokal. Kenapa mereka bisa bahagia dengan kondisi ini? Mungkin ada rahasia yang belum kita temukan.

  2. Validasi Perasaanmu, Kalau merasa sedih, ya sedih saja. Kalau merasa iri, akui saja. Jangan pura-pura jadi pahlawan yang nggak punya rasa capek. Menangis sebentar nggak bakal bikin kita dideportasi, kok.

  3. Cari Komunitas, Manusia itu mahluk sosial. Cari orang-orang yang senasib. Berbagi keluh kesah soal "betapa susahnya cari sekolah yang oke" bisa jadi terapi yang jauh lebih manjur daripada nonton seminar motivasi. Dan ini masih saya usahakan banget buat nemuin yang bisa pas dihati.

  4. Fokus pada Tanggung Jawab, Bukan Beban, Ingat lagi kenapa kita di sini. Ada visi yang sedang diperjuangkan. Fokus pada langkah kecil hari ini, bukan pada gunung besar di depan mata.

  5. Rayakan Kemenangan Kecil, Berhasil masak makanan yang enak? Rayakan. Anak dapat teman baru di sekolah? Rayakan. Berhasil buat nggak sedih hari ini? Rayakan. Di tengah situasi yang sulit, kemenangan sekecil apapun adalah emas dan harus di rayakan.

Penutup, 2026 Bukan Soal Tempat, Tapi Soal Cara Kita Melihat

Tahun 2026 ini mungkin tidak akan menjadi tahun yang mudah. Adaptasi masih akan terus berlanjut, hawa tak nyaman Kalimantan masih akan menempel di hati, dan rasa iri mungkin sesekali masih akan mampir saat jempol ini scrolling media sosial atau status WAG.

Tapi satu hal yang saya tahu pasti, saya masih bertahan. Dan bertahan adalah sebuah pencapaian besar. Esensi tahun baru kali ini bukan soal "New Year, New Me", tapi tentang "New Year, Stronger Me". Kita tidak perlu menjadi orang lain, kita hanya perlu menjadi versi diri kita yang lebih berani menghadapi kenyataan yang tidak selalu sesuai rencana.

Jadi, untuk kamu yang juga sedang berjuang, yang merasa kualitas hidupnya menurun, yang iri melihat kemudahan orang lain, mari kita angkat gelas (atau botol air mineral) kita. Kita masih di sini, kita masih berjuang, dan itu sudah lebih dari cukup. Selamat tahun baru 2026. Mari kita lanjutkan adaptasi ini dengan kepala tegak, meskipun hatinya sedikit lecet-lecet. Karena pada akhirnya, bukan tentang di mana kita berada, tapi tentang bagaimana kita merawat api di dalam diri agar tidak padam oleh keadaan.

Berdirilah sebelum ada drama, dan tetaplah sabar sebelum kita kehilangan makna. Selamat berjuang!

Husnul Khotimah
Seorang ibu yang senang menulis tentang motivasi diri, parenting dan juga tentang kehidupan sehari-hari di Jombloku. Semoga blog ini bisa membawa manfaat buat kita semua.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar