Mengapa Saya dan Keluarga Tidak Merayakan Ulang Tahun dengan Pesta dan Kue?

5 komentar
Setelah sekian lama kami menikah dan bergaul, sedikit demi sedikit saya mulai mengenal suami. Baik kelebihan maupun kelemahannya. Dan jika dahulu saya masih sering melakukan beberapa hal yang banyak dilakukan orang lain seperti ghibah dan merayakan ulang tahun, saat ini perlahan mulai saya tinggalkan. Saya berusaha untuk tidak membicarakan hal yang bukan urusan saya walaupun “dia” keluarga. Bahkan suami mencoba mengingatkan saya untuk tidak membicarakan orang lain walaupun itu pembicaraan mengenai yang baik-baik. Selain dengan maksud mengambil pelajaran dan hikmah, kami berusaha untuk tidak berbicara mengenai orang lain. Dan alhamdulillah, saat ini kami semakin jauh dari membicarakan orang lain. Semoga saja saya bisa tetap konsisten.



Selain ghibah, hal baru yang juga saya lakukan adalah, tidak merayakan ulang tahun, entah itu dengan mengundang teman, merayakannya dengan makan-makan, apalagi dengan kue ulang tahun yang diatasnya ada lilin.

Bukan bermaksud menyinggung teman-teman yang kemungkinan merayakan ulang tahun, namun ini murni dari kami karena kami merasa manfaat merayakan ulang tahun belum seperti apa yang kami harapkan.

Soal tidak merayakan ulang tahun dengan pesta, makan-makan dan pemberian hadiah, saya juga ingin menularkan hal tersebut kepada anak. Alasannya sederhana, karena sebuah hadits dari Abu Qatadah Al-anshari radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa hari Senin yang beliau jawab: "Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Jadi, karena Rasulullah merayakan kelahirannya dengan berpuasa (ibadah) yang justru tidak mengeluarkan uang sama sekali (makan-makan) maka kami pun menginginkan hal yang sama. Kami juga ingin merayakan hari kelahiran kami dengan berpuasa atau melakukan ibadah yang lainnya, mungkin seperti bersedekah atau sejenisnya.

Bagi sebagian orang, merayakan ulang tahun dengan mengundang teman-teman, membuat kue, dengan makan-makan dan lain-lain serta mungkin ada juga yang melakukannya dengan tahlil, dzikir, doa dan lain-lain, saya pribadi maupun keluarga sebenarnya tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah. Karena semua akan kembali kepada niatnya masing-masing. Mengundang teman untuk menghadiri acara ulang tahun kemudian makan-makan juga kami anggap sebagai kegiatan yang positif karena dapat menyambung tali silaturahmi. Walau demikian, kami berusaha untuk berpegang teguh agar tidak melakukan yang lebih dari itu, misalnya sampai harus meniup lilin dan mengucapkan permohonan sesaat setelahnya.

Soal memberi hadiah di dalam keluarga, kami cenderung tidak mengambil waktu-waktu spesial. Kami lebih memilih mengedepankan "makna" dari hadiah tersebut dibandingkan dengan "hari" pemberiannya.

Ngomong-ngomong soal hadiah, saya sudah pernah memberikan suami kaos yang bertuliskan “Jihad” dan kaos yang bertema Islami yang semoga saja bisa mengingatkannya untuk tetap rajin beribadah. Namun selain itu saya juga masih ingin memberikan kejutan kepada suami dengan memberikannya beberapa hadiah. Salah satunya mungkin suatu saat saya ingin membelikannya jam tangan. Di luar sana mungkin ada beberapa jam tangan berkualitas dan bermerek. Tapi salah satu yang cukup menarik perhatian saya ketika datang ke telunjuk.com adalah jam Casio yang kayaknya harganya nggak terlalu mahal. Sepintas waktu ngecek, saya tahu harganya antara Rp 159.000-2.000.000. Kalau ukuran saya sih mungkin nggak bisa beli yang mahal. Tapi saya lihat harga yang termurah saja desainnya sudah cukup lumayan maskulin sangat cocok untuk laki-laki. Moga-moga niat ini bisa terwujud suatu saat nanti.
Husnul Khotimah
Seorang ibu yang senang menulis tentang motivasi diri, parenting dan juga tentang kehidupan sehari-hari di Jombloku. Semoga blog ini bisa membawa manfaat buat kita semua.

Related Posts

5 komentar

  1. Mirip banget dengan teman kantorku dulu mba, keluarga dari suaminya nggak ada yang merayakan ultah dan sejenisnya. Akhirnya si istri keikut juga hihihi.

    Perbedaan itu indah :)

    BalasHapus
  2. semoga dia gak buka posan ini biar hadiahnya nggak bocor :p

    BalasHapus
  3. Hohoho.. Salam kenal & semangat.. Saya juga tidak merayakan. Dan keluarga saya juga bukan keluarga yang fanatik dengan tanggal. Jika kebetulan kami ingat, cukup berdoa, barakallahu fi umrik. Kalau ada yang tanya, jika kira kira orangnya belum paham betul, dikasih pengertian bahwa usia semakin pendek kok senang.

    Btw, mentraktir teman adalah sunnah. Tinggal niatnya, ikut sunnah apa hura-hura hehehehe..

    Numpang ngasih tips. Kalau beli jam, usahakan ori ya, biar barakah..

    BalasHapus
  4. Aku nggak pernah rayain ultah pake kue, pesta. Emang nggak biasa sih, hehehe

    ultah lbh byk mikirnya, smoga lbh baik

    BalasHapus
  5. Setiap orang memiliki pendapat masing-masing.
    Tidak ada yang salah, dan gak boleh juga menyalahkan selama itu di perbolehkan.

    BalasHapus

Posting Komentar