Momen Konser Artis Favorit Nyaris Berantakan Gara-Gara Mata SePeLe

Posting Komentar

Di umur yang tidak mudah lagi. Di umur yang sebentar lagi akan memasuki kepala empat. Saya mengalami berbagai macam kejadian yang nyaris tak pernah saya alami di masa muda.

Ya, dunia medis sudah menegaskan bahwa kondisi kesehatan kita sudah jauh menurun sejak usia 30 tahun. Dan ini benar-benar nyata dan sudah saya buktikan sendiri.

Salah satu momen di mana hal tersebut terbukti adalah ketika saya mainan ke Surabaya dan berkesempatan menonton konser salah satu artis favorit.

Nonton Konser Dadakan

Ternyata, kesempatan bertemu kembali dengan idola masa muda itu jauh lebih langka dibanding kesempatan melihat diskon tanggal kembar di marketplace.

Mungkin terdengar berlebihan. Tapi begitulah rasanya.

Waktu masih kuliah, lagu-lagu Budi Doremi hampir selalu ada di playlist saya.

Ada lagu yang menemani saat naik motor sendirian, ada yang diputar ketika lembur, ada juga yang diam-diam ikut menjadi soundtrack patah hati.

Tapi meski bertahun-tahun menjadi pendengar setia, saya belum pernah sekalipun menonton konsernya secara langsung.

Kesempatan itu akhirnya datang dengan cara yang sama sekali tidak direncanakan.

Saat sedang berkunjung ke Surabaya, saya iseng membuka media sosial sambil mencari rekomendasi tempat makan malam.

Tiba-tiba muncul informasi bahwa malam itu Budi Doremi akan tampil di Lapangan Kodam Brawijaya Surabaya.

Saya sampai mengecek tanggal berkali-kali.

“Serius? Malam ini?”

Kadang hidup memang lucu. Kita menyusun rencana berbulan-bulan, hasilnya berantakan.

Tapi ketika tidak merencanakan apa-apa, justru mendapat hadiah kecil yang tidak disangka.

Kulineran Seru & Nonton Konser di Pasar Malam di Lapangan Kodam V Brawijaya

Kuliner di Pasar Malam Kodam V Brawijaya Surabaya

Karena konser baru dimulai malam, saya sengaja datang lebih awal. Soalnya kalau lagi di Surabaya, saya suka menikmati kuliner di pasar malam Kodam Brawijaya.

Selain karena lokasinya nggak terlalu jauh dari rumah adik, kawasan itu memang terkenal ramai kalau ada event.

Aroma sate, bakaran seafood, nasi goreng, sampai jajanan kekinian saling berlomba menggoda siapa saja yang lewat.

Saya termasuk orang yang percaya kalau menonton konser dengan perut kosong itu ide yang buruk. Bisa-bisa yang diingat bukan lagunya, melainkan suara perut sendiri.

Suasana mulai berubah ketika matahari tenggelam. Orang-orang berdatangan mengenakan kaus favorit, beberapa membawa anak, ada pasangan muda, ada juga yang mungkin seusia saya, orang-orang yang diam-diam sedang bernostalgia.

Selepas Isya gerbang area konser dibuka. Nggak butuh waktu lama, bagian depan panggung udah nyaris penuh sesak sama penonton.

Begitu lampu panggung menyala, beberapa artis dan band lokal menjadi pembuka acara.

Sudah cukup lama sejak kali terakhir Saya menonton konser musik. Rasanya seperti kembali beberapa belas tahun yang lalu.

Semua orang mulai terlihat hanyut.

Sampai tibalah saat pertunjukan utama. Saya merangsek ke depan supaya bisa melihat lebih jelas.

1..2..3..4..5..6... Lagu andalannya ini jadi lagu pembuka yang mengingatkan saya pada masa-masa muda dulu.

Sebuah lagu yang penuh nostalgia. Lirik demi lirik mengalir begitu saja dari mulut saya.

Momen yang sudah lama saya tunggu akhirnya benar-benar ada di depan mata.

Momen Tak Terduga

Konser Budi Doremi di Kodam Brawijaya Surabaya

Sampai kemudian sesuatu yang sepele justru hampir merusak momen langka ini.

Menjelang lagu Melukis Senja yang paling saya tunggu, penonton mulai mengangkat ponsel.

Ratusan lampu kecil menyala bersamaan, menciptakan pemandangan yang indah. Saya ikut mengangkat tangan sambil sesekali merekam.

Lapangan yang dipadati ribuan orang membuat debu-debu halus beterbangan. Entah dari tanah yang terinjak, entah dari arah luar area konser.

Yang jelas, beberapa detik kemudian mata saya mendadak terasa PErih, seperti ada butiran pasir yang menggesek permukaannya.

Refleks saya langsung memejamkan mata.

Semakin dipaksa membuka, rasanya justru semakin tidak nyaman.

Ironisnya, momen itu terjadi tepat ketika Budi Doremi mulai menyanyikan bagian lagu yang paling saya tunggu.

Suara penonton bergemuruh, tetapi saya hanya bisa mendengar tanpa benar-benar melihat aksi di atas panggung.

Dalam hati saya cuma bisa menggerutu.

“Serius? Dari sekian ribu detik konser, kenapa harus sekarang?”

Awalnya saya mengira hanya kelilipan debu biasa. Namun setelah beberapa menit, mata mulai terasa sepet dan perih setiap kali dipaksa fokus melihat cahaya panggung yang begitu terang.

Waktu itu saya belum sadar kalau yang saya alami itu adalah Gejala Mata Kering.

Maklum, kejadian seperti ini memang merupakan kejadian yang nyaris belum pernah saya alami.

Banyak orang menganggap remeh karena berpikir, nanti juga bakal hilang sendiri.

Saat mengalaminya, saya sempat kebingungan. Saya pikir penyebabnya mungkin karena di sana banyak debu. Tapi ternyata tidak juga.

Jadi, saya menduga kemungkinan besar penyebabnya adalah karena saya tidak menutup kaca helm selama berkendara dari rumah ke Surabaya. Begitu juga dengan saat jalan-jalan di Surabaya saya juga sengaja tidak menutup kaca helm, sehingga mata lebih sering diterpa angin dan debu.

Dugaan saya semakin kuat karena angin memang bisa bikin air mata kita lebih cepat menguap, dan bikin mata jadi lebih kering.

Saya yang tadinya nggak terlalu peduli dengan terpaan angin meski tahu bisa menyebabkan mata kering, sekarang jadi sadar, ternyata Mata SePeLe Jangan Disepelein.

Karena kalau udah ngalamin sendiri baru tahu rasanya. Kadang, masalahnya bukan selalu datang dari hal-hal ekstrem yang kita lakukan.

Sebaliknya, justru penyebabnya adalah hal kecil yang kita anggap sepele. Tapi hal sepele inilah yang justru bisa mencuri momen-momen yang kita nantikan dan mungkin tidak akan terulang untuk kedua kalinya.

Untungnya saya membawa membawa INSTO DRY EYES di tas. Saya memang sengaja membawa obat tetes mata untuk setiap perjalanan jauh.

Saya punya stok insto banyak di rumah karena beberapa waktu sebelumnya suami pernah ngalamin mata perih. Waktu kami mudik ke rumah orang tua.

Mengingat suami adalah driver utama kami. Jadi, matanya selalu lebih fokus dan jarang diistirahatkan, meski hanya untuk sekedar berkedip, terutama kalau perjalanan sore atau malam.

Dari sana saya mulai mengetahui bahwa gejala mata kering seperti mata yang terasa perih atau seperti itu seringkali disebabkan oleh kebiasaan jarang mengedipkan mata, atau akibat angin yang menerpa sehingga air mata jadi kering, atau bisa juga karena mata yang lelah akibat pancaran lampu dari kendaraan pada malam hari.

Tapi emang betul. Kebanyakan mata kering itu dipengaruhi oleh aktivitas yang berlebihan.

Saya pun memilih untuk keluar dari kerumunan sebentar agar tidak mengganggu penonton lain.

Setelah meneteskan 2 tetes Insto Dry Eyes untuk masing-masing mata, saya memutar bola mata dan mengedip-ngedipkan mata sejenak untuk menyebarkan obat tersebut.

Sejenak saya membiarkan mata kembali terasa nyaman. Syukurlah, rasa perih mulai berkurang sehingga saya bisa kembali menikmati sisa konser dengan lebih tenang.

Sejak saat itu, saya sekarang lebih peduli terhadap kondisi kesehatan mata. Terutama ketika bepergian pakai motor. Sekarang saya selalu berusaha untuk menutup kaca helm meskipun pandangan jadi kurang nyaman dan terasa kurang sejuk.

Saya tidak ingin pengalaman sederhana seperti menonton konser terulang kembali dan menjadi kenangan yang disesali hanya karena mengabaikan kondisi mata.

Kenangan dan Pelajaran Tak yang Terlupakan

Lucunya, setelah konser selesai, yang paling banyak saya ceritakan kepada teman bukan hanya penampilan Budi Doremi. Saya justru bercerita tentang bagaimana momen terbaik malam itu hampir hilang gara-gara urusan mata.

Mungkin memang begitu cara Tuhan mengingatkan kita untuk selalu peduli dengan kesehatan dan banyak-banyak bersyukur. Bukan melalui kejadian besar, melainkan dari hal-hal kecil yang seringkali kita anggap remeh.

Karena itu, kalau suatu hari nanti kamu punya kesempatan bertemu lagi dengan artis favorit masa muda, menikmati wisuda anak, menyaksikan pertandingan idola, atau sekadar menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang, jangan sampai momen itu terganggu hanya karena Mata SEpet, PErih, LElah yang sejak awal sudah memberi tanda.

Saya jadi semakin percaya bahwa #MataSePeLeJanganSepelein bukan sekadar slogan. Sebab ketika mata mulai tidak nyaman, seluruh pengalaman ikut berubah.

Saya jadi makin yakin bahwa membawa #InstoDryEyes saat bepergian itu adalah keputusan yang tepat. Terutama kalau kita bepergian jarak jauh di malam hari, dan menggunakan kendaraan roda dua. Anggap aja sebagai ikhtiar sederhana agar tetap #BebasMataKering, sehingga momen-momen yang sudah lama dinanti bisa benar-benar dinikmati sampai selesai.

Husnul Khotimah
Seorang ibu yang senang menulis tentang motivasi diri, parenting dan juga tentang kehidupan sehari-hari di Jombloku. Semoga blog ini bisa membawa manfaat buat kita semua.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar